Syaepul | initasik.com
Ekbis

Meski Masih Jadi Andalan, Usaha “Airbrush” Motor tidak Secerah Dulu

initasik.com, ekbis | Sembilan tahun lalu, Miftahul Anwar, seperti ketiban durian jatuh. Pemilik bengkel cat dan modifikasi Mif Airbrush, di Jl. Tamansari (Gobras), Gunung Kanyere, Mulyasari, Tamansari, Kota Tasikmalaya, itu mendulang uang banyak dengan boomingnya airbrush motor.

Pada 2008, pria berusia 37 tahun itu merasakan betul bagaimana gampangnya dapat uang dari airbrush. Boleh dibilang bisa membeli segala yang diinginkannya. Pegawai pun sampai punya delapan orang. “Waktu itu memang zamannya airbrush full body dengan permainan warna yang rumit,” sebut Miftah.

Sekarang, lanjut dia, para pecinta otomotif beralih selera. Memilih gaya minimalis. “Peminat airbrush beberapa tahun sekarang ini berkurang, tidak seperti dulu. Sekarang lebih banyak ke modifikasi. Kalaupun dicat, mereka memilih gaya minimalisan,” tandasnya.

Pengakuan serupa disampaikan Jimmiy, 21 tahun, pemilik Med Airbrush, di Jl. Tamansari, Sukahurip, Tamansari. Menurutnya, kegandrungan pengendara untuk mengairbrush realis dan grafis motornya berkurang. “Beda dengan dulu. Sekarang lebih memilih model minimalis,” ujarnya.

Selain pengerjaannya lama, airbrush full body terbilang mahal  biayanya. Satu motor sampai satu juta rupiah. Itu dikerjakan selama tiga hari. Kalau yang minimalis tidak seperti itu. Hanya dicat pelek atau tangkinya. Warnanya pun tidak banyak. Lebih cepat dan lebih murah. Hasilnya sama-sama gaya. Beda. [Syaepul]

Komentari

komentar