Informasi

Meski Murah, Membuat Bata Merah Butuh Waktu Lama

initasik.com, informasi | Di daerah Rancakupa, Kelurahan Setiawargi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, setidaknya ada enam tempat pembuatan bata merah yang berjajar di pinggir jalan. Salah satunya Opidin.

Ia menuturkan, perlu waktu lama untuk membuat bata merah ini. Ada tiga jenis bahan yang digunakan untuk membuatnya, yaitu pasir, tanah liat, dan abu. Ketiga bahan baku itu diaduk menjadi satu. Dalam tahap ini mesti menguras tenaga ekstra lantaran sulitnya mengaduk ketiga bahan itu. Apalagi Opidin masih menggunakan cara manual.

Setelah proses pengadukan selesai, sedikit demi sedikit adonan itu dimasukkan ke dalam cetakan bata dan ditaburi serbuk gergaji supaya bata berwarna merah. Hanya bermodalkan alat dari sepetak kayu dan sebuah tali kasur, bentuk bata pun rata dengan sempurna. “Kalau sudah begini tinggal dijemur. Penjemuran ini sbisa sampai satu bulan,” sebutnya.

Lamanya penjemuran itu agar bahan campuran bata mentah, terutama abu, bisa menyerap secara optimal, sehingga saat bata sudah siap pakai kualitasnya lebih bagus dan kuat. Ketika proses penjemuran selesai, jangan kira bata bisa langsung dijual begitu saja. Bata tersebut baru setengah jadi.

Untuk memperkokoh kualitasnya, bata-bata pascajemur itu harus lagi-lagi dipanaskan dengan api. Bata ditumpuk sedemikian rupa dengan memberikan celah di setiap sisinya. Di bawahnya diberi limbah gabah sebaga sumber bahan bakar api. Tidak dibakar dalam api besar, cuma dipanaskan. Proses pemanasan itu berlangsung sekitar satu sampai dua minggu. Tergantung keadaan batu bata. Ciri bata yang sudah siap diangkat berwarna kemerah-merahan.

Di balik lamanya pembuatan bata merah itu, ternyata harganya murah. Hanya Rp 500. Opidin mengaku, perkembangan zaman membuat omzet penjualan bata terus merosot, terutama semenjak hadirnya bahan bangunan lain yang menjadi saingan bata merah, seperti batako atau hollow block.

Kendati jauh lebih mahal, batako lebih banyak dipilih oleh masyarakat karena kualitasnya jauh lebih baik. Bahan campurannya yang hanya menggunakan pasir dan semen, membuat bahan bangunan modern itu jauh lebih kokoh.

Di tengah kondisi seperti itu, Opidin mengaku akan terus menjalani usahanya tersebut. “Jalani saja yang ada,” ucapnya. [Eri]