Inspirasi

Meski Nada Hidup Yono tak Semerdu Gitar Buatannya

Kabupaten Tasik | Yono, warga Kampung Sindangsono RT 01 RW 02 Desa Sukamanah, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, punya keahlian yang tidak dimiliki semua orang. Ia mahir membuat gitar.

Pria lajang kelahiran 1968 itu mampu merangkai gitar dengan bahan dan peralatan sederhana. Untuk menghaluskan body gitar, misalnya, ia menggunakan pecahan gelas kaca alias beling. Memotong triplek pun cukup pakai pisau kater. Sedangkan untuk mengecat gitar, Yono memanfaatkan bekas semprotan pembasmi nyamuk.

Kendati dibuat dengan peralatan seadanya, gitar merek “Sinta” alias Sindangsono Tasikmalaya made in Yono bisa menembus pasar luar Pulau Jawa. Saat disambangi ke rumahnya, ia sedang membereskan gitar pesanan orang Pekanbaru, Riau.

Satu gitar ia jual Rp 400 ribu, dan dapat keuntungan Rp 50.000. Karena dikerjakan serba manual akibat keterbatasan peralatan produksi, ia hanya dapat menyelesaikan satu gitar dalam waktu lima hari.

Ia mengaku terobsesi bisa membuat gitar sejak puluhan tahun lalu. Awalnya hobi main gitar. Tapi karena tidak punya modal awal, ia tak serta merta bisa langsung membuat gitar. Yono menjadi buruh percetakan dulu. Uang hasil keringatnya ditabung sebagian. Sudah terkumpul, lalu dibelikan dua lembar triplek dan peralatan.

Setelah bisa beli triplek dan peralatan, ia malah kebingungan bagaimana membuat gitar. Untung ada temannya yang mau memperbaiki gitar. Dibongkarlah gitar itu untuk digunakan acuan pola. Kendati sudah ada pola, ia puluhan kali gagal dalam membuat lekukan badan gitar.

Yono berpikir dan mencari solusi bagaimana bisa membuat triplek melekuk. Ia mencoba dengan dipres pakai minyak sayur, tapi gagal. Muncul dalam pikirannya, bila dicelupkan dulu ke air akan lebih lentur dan bisa menjadi lekukan. “Eh betul juga, akhirnya terbentuk juga,” ujarnya sumringah. Ia menjamin, gitar buatannya kualitasnya tidak asal-asalan. Suaranya berani diadu dengan yang ada di pasaran.

Suara merdu gitar buatan Yono, ternyata berbanding terbalik dengan jalan hidupnya. Kedua kakinya tidak berfungsi seperti pada umumnya. Ia tidak bisa berjalan normal. Bahkan, sejak masih bayi ia ditinggal ayah-ibunya yang bercerai. “Waktu masih bayi, saya dititipkan di orang begitu saja,” kisahnya pilu.

Berdasarkan cerita yang ia dengar, waktu itu ibunya menitipkan dirinya ke Ibu Omah, tetangganya. “Nitip budak rek nonton,” kata Yono menirukan perkataan ibunya saat menyerahkan Yono kecil ke Omah. Tapi, sampai lima hari ibunya tidak kunjung datang, hingga tidak ada kabar beritanya. Akhirnya ia dibawa dan diasuh oleh neneknya, Mah Osih. Setelah Ma Osih meninggal dunia, Yono harus lebih mandiri mencari sesuap nasi.

Ditanya harapan, Yono berkeinginan memperbesar jumlah produksinya dan memiliki ruangan kerja khusus. Selama ini hanya di teras depan rumah bibinya. Untuk tidur numpang dekat warung yang berukuran satu setengah meter. Meski nada hidup Yono tak semerdu gitar buatannya, ia tetap ceria menapaki takdir. initasik.com|salim

Komentari

komentar