Peristiwa

MURI: Lebih Baik yang Mengedukasi dan Memberdayakan Perajin

 

Kota Tasik | Untuk kali kedua, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya kembali mencatatkan namanya di Museum Rekor Dunia – Indonesia (MURI) dengan membuat replika taplak meja bordir terbesar di dunia berukuran lebih dari 80 meter persegi, tepatnya 10,90 x 8,80 meter.

Pembuatan rekor itu bagian dari acara Tasikmalaya Creative Festival (TCF) 2016. Tahun kemarin, dalam ajang yang sama, rekor yang buat adalah selendang bordir terpanjang di dunia. “Kami ingin membangkitkan kembali kejayaan bordir Tasik,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Wahyu Purnama, Minggu, 9 Oktober 2016.

Ia menyebutkan, taplak itu dibuat oleh sepuluh perajin dengan menggunakan mesin bordir manual selama 1,5 bulan. “Taplak itu kami buat sebagai bentuk kecintaan pada bordir manual. Kami ingin memberikan semangat kepada perajin untuk bisa mengekspor produknya ke berbagai negara,” tutur Wahyu.

Sementara itu, Senior Manager MURI, Jusuf Ngadri, mengatakan, lembaganya memang memberi penilaian pada sesuatu yang terukur. Namun, pihaknya mendorong BI untuk tidak hanya membuat sesuatu yang terbesar, tapi juga yang memberikan efek berkelanjutan bagi para perajin.

“Membuat replika itu baik. Tetapi akan lebih baik misalnya membuat desain yang lebih baik, pewarnaan yang lebih baik, dan kemudian dilombakan. Itu penting untuk mengedukasi para perajin,” paparnya.

Ia menyarankan, ke depan lebih baik dilakukan pemecahan rekor yang bisa memberdayakan para perajin secara berkesinambungan. Tidak lantas tamat setelah dinyatakan terbesar, seperti taplak meja itu.

“Yang penting ada pemberdayaan kepada para perajin. Membuat sesuatu yang berkelanjutan. Mudah-mudahan nanti begitu,” ujarnya seraya menegaskan, MURI didirikan untuk menginspirasi orang lain agar berprestasi lebih baik dan lebih baik lagi. Ada kompetisi sehat dalam memajukan bangsa. initasik.com|shan

 

Komentari

komentar