Peristiwa

Murid Nakal Butuh Perhatian, Bukan Hukuman

Kota Tasik | Erik Supriadi S.Fil.I, guru MA Al-Hikmah, Sumelap, Tamansari, Kota Tasikmalaya, punya gaya sendiri dalam membentuk karakter murid. Ketika menghadapi siswa nakal, misalnya, ia tidak memarahi, apalagi menghukumnya.

“Murid itu butuh perhatian, tidak butuh diceramahi. Memberi arahan itu tidak perlu lama. Lima menit saja cukup, asal diarahkannya dengan hati,” ujarnya saat berbincang dengan initasik.com dalam satu kesempatan.

Guru Bahasa Indonesia itu menceritakan, saat pertama mengajar ada anak yang memanggilnya kurang sopan. Lantas memanggilnya ke ruangan guru. Anak menyangka akan memarahinya. Padahal sebaliknya. Memosisikan diri sebagai sahabatnya. Mendengarkan curhatannya, lalu mengarahkannya.

Dalam mengajar, ia mengaku senang menggabungkan praktik dengan teori. Misalnya, menyuruh murid untuk tampil ke muka. Bicara di atas podium. Tak ada panggung, meja pun jadi. “Perkara dia salah dalam berbicara, kan ada guru. Yang penting dia berani ke depan saja dulu. Dalam mengajar, gunakan hati biar masuknya ke hati juga. Kalau pakai mulut masuknya ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri,” ujar guru yang juga mengelola PKBM Yayasan Darul Qiyam itu.

Ia menegaskan, menjadi guru itu bukan pekerjaan tapi kewajiban. Mengajar adalah soal keikhlasan. Pendidikan tidak mempunyai ruang dan waktu. Di manapun dan kapanpun harus mendidik dan rela untuk dididik.

“Kalau niat jadi guru untuk mencari uang, ya nilainya uang saja, tidak ada nilai lebihnya. Yang membuat saya merasa nyaman jadi guru adalah banyak ide kreatif yang dibuat nyata oleh siswa. Mengajar itu tidak ada pensiunnya. Sampai mati harus bisa mendidik dan rela dididik orang lain,” tuturnya. initasik.com|syamil

Komentari

komentar