Jay | initasik.com
Inspirasi

Mutiara di Balik Ketidaksempurnaan Fisik Asep Yunus Imanuddin

initasik.com, inspirasi | Fisik Asep Yunus Imanuddin ditakdirkan tidak sempurna sejak kecil. Tidak punya dua kaki. Organ tubuhnya hanya sampai paha. Itupun tidak utuh. Untuk berjalan, warga Sukamulya (Aboh), belakang Bale Kota Tasikmalaya, itu mengandalkan kedua tangannya.

Sedih, iya. Tapi ia mengaku tidak mau meratapi takdir terus-menerus. Tidak punya kaki bukan berarti minus semangat dan kreativitas. Ia masih punya hati dan otak. “Meskipun kondisi fisik saya seperti ini, saya tidak ingin dikasihani. Tidak ingin diberi, tapi ingin memberi,” ujarnya saat berbincang dengan initasik.com, Ahad, 14 Mei 2017.

Tadi pagi, di arena waktu bebas kendaraan bermotor, ia sibuk melayani pembeli. Asep jualan makanan ringan, seperti keripik, kacang dan lain-lain. Semua barang dagangannya disimpan di wadah besar yang sudah dimodifikasi. Di bawahnya ada dudukan yang dipasangi empat roda, sehingga ringan untuk didorong.

“Alhamdulillah bisa berkembang seperti sekarang. Asalnya saya jualan di boks kecil. Digendong di dada. Modal awalnya Rp 50 ribu. Sekarang bisa pakai ini dan punya motor matic roda empat yang dibeli dari hasil jualan,” tutur pemuda berusia 22 tahun itu.

Menurutnya, macam-macam kudapan itu dibelinya di pasar. Beli per bal. Lalu dibungkus dengan plastik ukuran kecil. Tiga bungkus dijual Rp 10.000. Kalau lagi ramai, sehari bisa dapat omzet Rp 1 juta. “Pernah diborong sama Kang Dicky Candra. Satu wadah ini dibeli Rp 1,5 juta. Alhamdulillah,” imbuhnya.

Ia bersyukur masih banyak orang yang sayang padanya. Memberi perhatian lebih. Salah satunya Uyung Arya yang memberinya kursi roda. Asep memaknai semua itu sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT kepadanya.

“Sejak dulu saya punya prinsip, kalau mau maju harus bekerja keras. Maju mengejar meraih mimpi. Terus maju apapun rintangannya. Dan saya tidak ingin dikasihani. Tidak ingin diberi, tapi ingin memberri. Memberi inspirasi dan semangat. Meskipun kondisi fisik seperti ini, saya tidak ingin dikasihani. Tidak ingin diberi, tapi ingin memberi. Saya tidak ingin minta-minta atau mengharap belas kasihan orang,” papar bungsu tujuh bersaudara dari pasangan Uus Rustia dan Komarudin (Alm) itu. [Jay]

Komentari

komentar