tebar benih ikan | Jay/initasik.com
Seni Budaya

Ngalokat Cai Situ Sanghyang Diharapkan Jadi Daya Tarik Wisata


initasik.com, seni budaya | Tradisi ngalokat cai sudah menjadi agenda tahunan bagi masyarakat di sekitar Situ Sanghyang, Desa Cibalanarik, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, sekaligus merupakan daya tarik wisata.

Puncaknya digelar hari ini, Senin, 14 Agustus 2017, dihadiri Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum beserta pejabat instansi terkait dan muspika. Uu turut terjun dalam setiap prosesi, mulai mengawinkan air, tebar bibit ikan, hingga ziarah ke makam leluhur.

Ngalokat cai merupakan ritual budaya tahunan  masyarakat sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas melimpahnya air di situ yang berlokasi di antara Desa Cibalanarik dan Desa Cilolohan itu.

Uu menyebutkan, tradisi ngalokat cai akan terus dilestarikan Pemkab Tasikmalaya, karena akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Situ Sanghyang. “Tradisi ini harus dilestarikan, meski kami mengakui masih banyak kekurangan pada fasilitas. Ke depannya kami sudah membuat konsep untuk mengembangkan situ Sanghyang,” ujarnya.

Tokoh pemuda Desa Cibalanarik yang juga Ketua Forum Komunitas Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Tasikmalaya, Asep Zamzam, menambahkan, tradisi ngalokat cai merupakan salah satu cara untuk memelihara dan melestarikan air.

Sebab setiap tahun debit air di Situ Sanghyang begitu melimpah. Bahkan ketika musim kemarau pun, air situ tidak pernah terkena dampak, sehingga sektor pertanian di perkampungan sekitar situ selalu subur dan terailiri air.

“Acara ini sebagai bentuk rasa syukur  masyarakat sekitar terhadap keberadaan Situ Sanghyang. Kami melaksanakannya rutin setiap tahun. Ke depannya kami berharap tradisi ini bisa terus diselenggarakan, sehingga menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Situ Sanghyang,” jelas Asep. [Kus]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?