Selain ojek, taksi dan becak juga mengandalkan pendapatan hanya dari para penumpang di Stasiun Kereta Api Tasikmalaya | Jay/initasik.com
Peristiwa

Ojek Pangkalan Kota Tasik Beri Peringatan ke Go-Jek

initasik.com, peristiwa | Para tukang ojek pangkalan satu suara soal kehadiran Go-Jek di Kota Tasikmalaya. Mereka memberi peringatan kepada para pengendara Go-Jek untuk tidak mengambil penumpang di area biasa mereka mangkal.

“Kalau hanya mengantar, silakan,” ujar Nanang Suryana, 64 tahun, tukang ojek depan Stasiun Tasikmalaya, kepada initasik.com, Rabu, 12 Juli 2017.

Pria yang sudah menjadi tukang ojek stasiun sejak 1998 itu mengatakan, dirinya tidak keberatan jika ada pengendara Go-Jek yang membawa penumpang ke stasiun. Namun, bila ada yang menjemput penumpang di stasiun, ia dan rekan-rekan lainnya pasti bereaksi.

“Di sini, tukang ojek saja ada 20 orang. Belum supir taksi dan penarik becak. Semua mengandalkan pendapatannya dari penumpang kereta api yang turun di sini. Jika mereka ditarik Go-Jek, kami dapat uang dari mana?” tuturnya.

Peringatan serupa dilontarkan Ari Nurdan, tukang ojek yang biasa mangkal di pool Budiman. “Kita sama-sama cari uang di jalan. Tolong saling pengertian. Jangan ambil penumpang dari pool. Kalau mengantarkan ke sini silakan saja,” tandasnya.

Menurutnya, pernah ada pengendara Go-Jek yang mengambil penumpang di pool. Teman-temannya langsung bereaksi. Si pengendara diperingati untuk tidak mengganggu pelaku usaha serupa yang sudah lebih dulu ada.

“Pernah ada yang mengambil muatan di pool ini. Saya beri peringatan. Mereka beralasan, itu sudah sesuai prosedur dan punya izin. Kalau sesuai prosedur dan izin, ojek pangkalan lebih dulu punya,” tandasnya.

Ia menyebutkan, di pool Budiman ada 15 ojek yang giliran mangkal siang-malam. Keberadaannya resmi. Punya kartu anggota. Di bawah koordinasi kepolisian setempat. “Nah, itu dia ada Go-Jek. Kalau sedang tidak wawancara, pasti saya beri peringatan,” ucapnya sambil menunjuk pengendara Go-Jek yang mengambil penumpang di pangkalan pool Budiman.

Penarikan penumpang seperti itu, sebut Ari, bukan hanya sekali dua kali. Jika itu dibiarkan pasti menimbulkan gejolak sosial. Keributan tidak bisa dihindari. “Kalau sampai kontak fisik, tentu tidak baik. Saya pribadi tidak suka kekerasan. Silakan saja usaha, tapi jangan mengambil penumpang dekat pangkalan, karena akan menimbulkan persoalan. Bukan berarti kami melarang Go-Jek, tapi hormati yang sudah dulu ada. Ojek pangkalan sudah ada lama,” paparnya.

Ditanya apakah dirinya minat gabung Go-Jek, Ari menjawab, selama persyaratannya bisa dipenuhi, itu bukan hal yang mustahil. Namun, ia pesimistis semua ojek pangkalan bisa masuk Go-Jek, karena terbentur syarat memiliki ponsel android minimal ram 512 MB.

“Saya sudah tanya-tanya, hape seperti itu harganya jutaan rupiah. Mahal juga. Saya yakin tidak semua tukang ojek mampu membelinya, apalagi perekonomian sekarang sedang jelek. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja susah,” ucapnya.

Zenal Arifin, supir taksi yang biasa mangkal di Stasiun Tasikmalaya, menyampaikan persyaratan serupa. Ia meminta Go-Jek tidak mengambil penumpang di stasiun. “Memang pernah ada yang mengambil penumpang di sini. Saya ingatkan dia untuk tidak seperti itu. Hargai kami yang sudah lama di sini,” tandasnya.

Menurutnya, di stasiun ada sepuluh taksi. Semuanya, termasuk ojek dan becak, hanya mengandalkan penumpang kereta api. “Jangankan Go-Jek yang baru masuk Tasik, Budiman Taxi juga tidak mau mengambil penumpang di sini. Kita sama-sama cari uang. Sama-sama buruh. Saling menghargailah,” pinta Zenal.

Hendak diwawancara terkait hal itu, di kantor Go-Jek Tasikmalaya tidak ada yang mau bersuara. Salah seorang karyawan malah memberikan nomor kontak dan alamat e-mail. Dihubungi via WA, nomor tersebut belum memberikan tanggapan. Di Kota Tasikmalaya, Go-Jek mulai beroperasi sejak awal Juli 2017. [Jay]