Ekbis

Pabrik Tekstil Perintis Tasikmalaya Tinggal Menunggu Ajal; Terbesar di Masanya

initasik.com, ekbis | Bisa jadi belum banyak warga yang belum tahu kalau di (Kota) Tasikmalaya ada pabrik tekstil yang sudah ada sejak 1952. Namanya Pabrik Tekstil Perintis. Pabrik yang berada di Jalan Mohamad Hatta, Kota Tasikmalaya, samping Monumen Nasional Tugu Koperasi, itu sampai sekarang masih beroperasi, meski terengah-engah.

Padahal, Pabrik Tekstil Perintis pada masanya merupakan yang terbesar dengan mesin berteknologi Jepang. Meski waktu itu banyak pesaing, lebih dari 20 pabrik serupa, perusahaan tersebut masih digdaya.

Bahkan, pabrik yang sebelumnya menenun baju itu, juga sempat bekerja sama dengan Pabrik Tenun Garut (PTG) yang dikenal dengan kualitas kainnya yang sangat baik. Namun, itu dulu. Sekarang?

Kepala Pabrik Tekstil Perintis, Sahidin, mengatakan, pabrik tersebut tinggal menunggu ajal. Kini hanya dijalankan pihak ketiga dari Bandung dengan produksi kain setengah jadi sebanyak 200 kodi setiap minggunya.

Itupun pembuatan kain berdasarkan pesanan yang rutin dikirim ke NTB dan Bali. Kebanyakan, tenunan berupa kain sarung itu harus dilakukan pengolahan lanjutan. “Harga dari hasil tenun pun tidak seberapa kalau dibandingkan dengan kebutuhan saat ini, apalagi kebutuhan onderdil juga sangat jarang karena mesin yang sudah tua,” sebut Sahidin kepada initasik.com, Rabu, 12 Juli 2017.

Saat ini jumlah pekerja di pabrik tersebut ada 44 orang. Sebelumnya sangat banyak. Mesin juga banyak yang tidak jalan karena rusak dan belum dapat onderdilnya. “Mungkin hanya menunggu ajal saja, meski memang kalau dibilang sangat bersejarah,” tandas pria yang mengaku sudah mulai bekerja di sana sejak 1964.

Kondisi dalam pabrik pun sangat mengkhawatirkan. Bagian atap bangunan sudah lapuk, sehingga ketika hujan deras disertai angin kencang, para pegawai disuruh berhenti bekerja dan pulang. Sahidin khawatir sewaktu-waktu bangunan tersebut roboh dan membahayakan keselamatan para pekerja. Apalagi, pekerjanya didominasi orang tua, meskipun sejumlah mesin dioperasikan oleh anak muda.

“Sebenarnya saya masih berharap pabrik ini masih bisa jalan. Dengan adanya bantuan pemerintah saya yakin masih bisa beroperasi. Meskipun memang dibutuhkan modal sangat besar, karena mesin yang diperlukan juga cukup mahal harganya. Dibandingkan mesin yang ada saat ini dipastikan tidak akan lebih dari Rp 50 juta kalau dijual, sedangkan mesin modern di atas Rp 500 juta,” jelas Sahidin.

Ukon Darli, 73 tahun, salah seorang pekerja senior, menambahkan, ia tetap memilih bekerja di sana karena tidak ada lagi pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya. Ditambah dirinya tidak memiliki keahlian lain lagi, serta bersyukur karena bisa tinggal di bedeng pabrik tersebut yang berada tepat disamping pabrik tersebut.

“Tidak pensiun di sini mah. Mungkin setelah meninggal, baru saya berhenti bekerja di sini. Tetapi apapun dan berapapun penghasilan yang saya dapatkan, saya sangat bersyukur dan ini merupakan rezeki yang patut saya syukuri. Hanya memang sangat berharap juga bila ada yang bisa memperhatikan pabrik ini agar tetap bisa berjalan berproduksi,” tutur Ukon. [Kus]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?