Seni Budaya

Panggung Raksa Budaya; Dobrak Pertunjukan Seni yang Elitis

initasik.com, seni budaya | Pertunjukan kesenian di Kota Tasikmalaya perlahan dibuat elitis. Hanya segelintir orang yang bisa menikmatinya. Dipusatkan pula di satu titik. Masyarakat di pelosok tak mudah mengaksesnya.

Asmansyah Timutiah, ketua Komunitas Cermin, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi sosial masyarakat yang sudah terpecah-pecah, termasuk di dunia kesenian yang disentralkan di satu gedung.

“Pertunjukan kesenian itu tidak perlu disentralistik. Kesenian bisa memanfaatkan ruang-ruang publik. Mari kita dekati masyarakat dengan berkesenian,” ujar pria yang akrab disapa Acong itu di sela Panggung Raksa Budaya, di Situ Gede, Kota Tasikmalaya, belum lama ini.

Selain itu, lanjut dia, anak-anak saat ini sedari kecil sudah main gadget yang mendorongnya jadi pribadi individualis. Untuk itu diperlukan upaya membangun ruang-ruang berkesenian yang membuka ruang komunikasi masyarakat.

“Kami berharap bisa membuat saung di sini. Diharapkan nantinya anak-anak sekitar bisa berlatih gitar, gamelan, tari dan semacamnya. Ini cukup penting untuk kita menghidupkan kembali ruang-ruang komunikais publik masyarakat. Kita akan menjaga intensitas ini setiap bulan. Mudah-mudahan, karena saya percaya niat baik,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Wa Azim, pendiri komunitas Satu Arah. Menurutnya, kesenian saat ini terkesan elitis. Banyak masyarakat yang segan melihat pertunjukan kala harus masuk gedung kesenian.

Untuk itu, ia dan para pegiat kesenian menyelenggarakan beragam kegiatan seni budaya yang dikemas lebih segar dan terbuka agar lebih mudah diterima masyarakat. “Tidak tahu siapa yang menjadi sutradara yang memecahkan peta berkesenian di Tasikmalaya ini. Intinya, kegiatan ini untuk memasyarakatkan kembali kesenian. Mendekatkan kesenian dan kebudayaan, sehingga bersentuhan langsung dengan masyarakat. Lahan-lahan seperti ini bisa kita manfaatkan untuk berproses,” terangnya. [Millah]