Historia

PARA PEMILIK MOBIL CHEVROLET SEDAN PERTAMA DI TASIKMALAYA

Oleh: Irfal Mujaffar

Tampak mobil jenis sedan dalam foto keluarga Eropa di Tasikmalaya, 1924

Mobil mulai dikenal luas oleh masyarakat pribumi di Indonesia pada akhir abad ke-19, tepatnya ketika bangsa Indonesia mulai memasuki era liberal kolonialisme. Produsen-produsen mobil raksasa terutama pabrikan asal Amerika dan Eropa, berlomba-lomba memasarkan produk unggulannya ke belahan bumi Asia, termasuk ke Hindia-Belanda. Menurut beberapa sumber, orang pribumi pertama yang memiliki mobil adalah Pakubuwono X. Pimpinan Kesunanan Surakarta ini membeli mobil bermerk Benz pada 1894.

Memasuki tahun 1900-an beberpa produsen mobil dari Eropa dan Amerika mulai serius memasarkan produk-produknya di Hindia-Belanda. Pabrikan mobil raksasa seperti Benz, Daimler, Fiat, Ford, dan Chevrolet, sukses menembus pasar nasional. Mereka bersaing berebut konsumennya di tengah masyarakat Hindia-Belanda. Perkembangan pasar jual-beli mobil pun semakin menggeliat setelah berdirinya perushaan-perusahaan yang bergerak dalam jasa importir mobil, salah satu yang terkenal adalah R.S Stockvis & Zonnen Ltd. Melalui jasa importir, proses pembelian mobil semakin mudah, sehingga sejak saat itu masyarakat pribumi di Hindia-Belanda mulai banyak yang memiliki mobil pribadi.

Semenjak saat itu mobil menjadi simbol moderniasasi di tengah masyarakat Hindia-Belanda. Mobil-mobil yang mulai berseliweran di jalan raya juga menunjukan tingginya status sosial seseorang. Pasalnya hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup membelinya. Rakyat jelata hanya bisa menikmati lalu-lalang mobil-mobil yang dikendarai oleh orang-orang Eropa dan kalangan menak pribumi saja. Mereka pun mulai terbiasa dengan kebisingan suara klakson yang sengaja dibunyikan oleh para pengendara mobil. Selain untuk menyingkirkan para pejalan kaki ke pinggir jalan, saat itu membunyikan klakson juga dipercaya menjadi simbol kekuasaan dari si pemilik mobil.

Tidak hanya di kota-kota besar saja, ekspansi pemasaran mobil juga merambah ke pasar-pasar lokal. Mulai tahun 1920-an, Tasikmalaya merupakan salah satu daerah yang menjadi pangsa pasar potensial bagi penjualan mobil di Priangan. Pabrikan mobil raksasa dari Amerika Serikat, seperti Chevrolet dan Ford tampil diurutan terdepan mendominasi geliat pasar penjualan mobil di Tasikmalaya.

Pada tahun 1920-an, perintisan usaha jasa importir mobil mulai berkembang di Tasikmalaya.  Di antaranya yang cukup terkenal pada saat itu adalah Firma Rous & Meeuwenoord dan Tjan Wan Joe. Firma Rous & Meeuwenoord merupakan salah satu perusahaan jasa importir mobil yang beralamat di Jalan Singaparna No. 1. Produk unggulan yang dijual di perusahaan ini adalah mobil Chevrolet. Sementara Tjan Wan Joe hanya berkonsentrasi pada pejualan mobil Ford saja, lokasinya terletak di Gunung Ladu, Tasikmalaya.

 

Iklan Chevrolet Sedan dalam Sipatahoenan, 1928

Dua produsen mobil raksasa asal Amerika Serikat itu bersaing memasarkan produk-produk unggulannya di Tasikmalaya. Beberapa jenis mobil keluaran Ford yang sukses masuk ke pasar penjualan mobil di Tasikmalaya di antaranya adalah Ford Touring yang dibandrol seharga f. 1630; Ford Runabout seharga f. 1570; Ford Sedan seharga f. 2330; dan Ford Sedan Tudor yang dibandrol seharga f. 2145. Sementara Chevrolet memasarkan jenis mobil Chevrolet Sedan yang pada saat itu memang sedang menjadi tren di pasaran mobil nasional.

Chevrolet jenis sedan ternyata diterima baik di tengah masyarakat Tasikmalaya. Produk Cheevrolet yang mulai masuk di pasar mobil Tasikmalaya sekitar pertengahan 1920-an ini laris terjual. Beberapa orang Tasikmalaya yang beruntung menjadi pemilik pertama jenis mobil yang sedang tren di Indonesia itu di antaranya adalah Tang Kong Tat salah seorang pemilik Toko Beng; Achmad Pakih dari Singaparna; Mas Adiwikarta yang menjabat sebagai Lurah Gresik; H. Adjoeri dari Panjalu; dan H. Mohammad Dasoeki salah seorang pengusaha sukses di Tasikmalaya.

Komentari

komentar

Komentari

Komentari