Komunitas

Pasukan Awi Sal(R)asa; Menggauli Bambu Menggali Budaya Tradisi

initasik.com, komunitas | Selasa, 29 September 2014, jadi hari bersejarah bagi Aji Juansyah, Wit Jabo Widianto, Kiki Ihsan Fauz, dan Hendi Ginanjar. Para pegiat seni asal Tasikmalaya itu punya hasrat yang sama dalam melestarikan kesenian budaya Sunda.

Mereka satu napas dalam menggali alat musik dari bambu, seperti karinding, celempung, dan goong tiup. Lahirlah Pasukan Awi Sal(R)asa. “Kami berharap jadi bagian dari masyarakat dalam mencintai dan melestarikan nilai-nilai budaya warisan para leluhur, khususnya di Jawa Barat,” ujar Aji Juansyah.

Sejak dibentuk, komunitas pecinta musik tradisional itu sudah tampil di banyak pertunjukan, seperti Cardinal Art Culture (2015), Festival Film Jawa Barat (2015), Kibar Budaya Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya dan lain-lain. Yang terbaru tampil di Rajab Fair, Bandung, 2017.

Ia menuturkan, salah satu konsentrasi main kelompoknya adalah menciptakan musik ilustrasi dalam pembacaan puisi. Agar kata-kata puisi terdengar hidup dan memudahkan pendengar memahami pesan di dalamnya, Pasukan Awi Sal(R)asa terus berupaya untuk membuat terobosan dalam membumikan puisi.

“Kita terus berupaya membuat terobosan baru agar karinding tidak monoton. Kita sempat mengeksplorasinya dengan berbagai aliran dan alat musik. Kita coba dengan musik rock, religius, dengan semua musik-musik modern. Kitu terus kombinasikan. Dan akhirnya kita menemukan model ini. Kembali ke dasar, mengoriginalkan karinding. Kita punya genre sendiri. Mengusung musikalisasi puisi. Menciptakan musik-musik ilustrasi sebagai latar puisi,” paparnya.

Untuk menciptakan musik seperti itu dibutuhkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, serta insting yang kuat. Dengan begitu, akan tercipta nuansa yang sesuai dengan pesan puisi tersebut. Alhasil, kegelisahan, kesedihan, dan sebagainya akan tergambar dalam setiap nada dan irama yang dibawakan.

Menurutnya, ada rasa yang berbeda ketika puisi diiringi musik tradisional. Rasa itu tidak akan ditemukan dalam musik modern. “Semoga dengan begini bisa meningkatkan gairah untuk mendalami puisi. Mendorong orang membaca hasil karya sastra. Bahwa musik sastra itu asyik. Memberikan rangsangan bahwa ada nilai lebih ketika pembacaan puisi diiringi oleh musik tradisi, sehingga memberikan kesan yang lebih,” ucapnya.

Karenanya, ia dan rekan-rekannya mesti pandai memadukan karinding agar selaras dengan pesan yang terkandung dalam puisi. Solusinya rutin latihan. “Setiap Selasa kita rutin kumpul untuk latihan dan menyamakan persepsi,” imbuhnya.

Hendi Ginanjar, personel Pasukan Awi Sal(R)asa, menambahkan, ketika puisi dilatari oleh musik karinding ada kesan tersendiri. Mendorong untuk menjiwai puisi. Suara yang ditimbulkan pun akan mengeluarkan rasa yang berbeda kepada pendengar. “Karinding itu dibuat dari awi sejengkal. Tapi memiliki arti yang sangat mendalam. Menenangkan,” tandasnya. [Syaepul]

Pasukan Awi Sal(R)asa: Aji Juansyah [Karinding] Agung Wijaya [Goong Tiup] Hendi Ginanjar [Celempung] Rega Nugraha [Celempung] Kiki Ihsan Fauzi [Suling] Rizki Afrizal [Karinding] Rudiat [Penyajak]

In Stage: Cardinal Art Culture [2015] Air Show Lanud Wiriadinata [2015] Festival Film Jawa Barat [2015] Kibar Budaya Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya | Rajab Fair, Bandung

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?