Etalase

Pedagang Gorengan pun Pasang “Money Detector”

Garut | Money detector alias alat pendeteksi keaslian uang, jamak ada toko modern, toko kelontongan, atau warung-warung berskala menengah ke atas. Tapi, bagaimana bila alat itu dipasang warung penjual gorengan, seperti bala-bala (bakwan), gehu, dan pisang goreng?

Itulah yang dilakukan Eni, pemilik warung Binarum, di Kp. Pangkalan, Desa Sukaratu, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. “Saya tidak tahu mana uang asli atau palsu. Jadi sering kecolongan dapat uang palsu. Makanya pasang alat itu,” jawab Eni saat ditanya alasan memasang money detector, Rabu, 11 Februari 2015.

Menurutnya, ia sadar telah mendapatkan uang palsu setelah dibelanjakan ke pasar. Uang itu ditolak pemilik jongko, karena palsu. Setelah membeli alat itu, katanya, sampai sekarang ia tidak pernah ketipu lagi. “Kemarin-kemarin ada beberapa kali dapat uang palsu. Saya balikin lagi ke orangnya, dan minta yang asli,” ucapnya sembari melepas tawa.

Wajar bila ia sering dapat uang palsu. Soalnya, warung yang dirintis orangtua Eni sejak tahun 2000 itu banyak pembelinya. Setiap hari, mulai pukul empat subuh sampai pukul sembilan malam, ratusan pengendara motor dan mobil sengaja istirahat di halaman Masjid Binarum Al-Ikhlas sambil menyantap gorengan panas. Ada juga mi rebus dan kopi.

Sehari, Eni mengaku biasa menghabiskan satu karung, atau 25 kg, terigu. Jika ramai, bisa mencapai satu setengah karung. Sedangkan kol untuk bala-bala habis 15 kg, lalu tiga tabung gas elipiji ukuran 3 kg, sepuluh liter minyak goreng, dan lain-lain.

Berapa omzet per hari? “Kalau sedang biasa-biasa seperti sekarang bisa rata-rata Rp 1,5 juta. Tapi kalau sedang ramai bisa dapat Rp 3 juta,” jawabnya seraya menambahkan, pertama kali dagang, orangtuanya, Jaja dan Rodiah, hanya habis setengah kg terigu. Pembelinya pun para petani yang bercocok tanam. Lambat laun, usahanya ramai seperti sekarang. initasik.com|ashani

Komentari

komentar