Bekas gedung pengadilan (landraad) - Syaepul | initasik.com
Sorot

Pelestarian Cagar Budaya Terabaikan Lantaran tak Ada Aturan

initasik.com, sorot | Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Tasikmalaya sudah berupaya mengendalikan kerusakan dan kemusnahan bangunan dan benda cagar budaya (BCB). Salah satunya mengajak Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPMPPT) dan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) untuk duduk satu meja dan bersinergi.

Ajakan itu tidak direspons. Alhasil, tidak sedikit BCB yang sudah musnah dan direnovasi total oleh pemiliknya. ”Kirim surat ke Dispenda sudah, tapi belum ada jawabanya. Supaya yang memiliki cagar budaya ada keringan untuk bayar PBB, misalnya. Lebih bagusnya itu ada untuk pemeliharaan, sehingga mereka merasa diakui. Ini mah tidak ada apa-apa. Pantas kalau dirombak juga,” tutur Kabid Kebudayaan Disbudparpora Kota Tasikmalaya, Uum Umayah.

Dari BMPPT, terkait perizinan, juga tidak direspons. Seharusnya ketika mengeluarkan perizinan ada tahapan terlebih dahulu, misalnya meneliti bangunan yang akan direnovasi. Namun, itu tidak digubris. Maka hancurlah bekas rumah Patih, persis depan kantor Disbudparpora Kota Tasikmalaya.

“BCB yang dihancurkan itu, kita tidak bisa menuntut karena misalnya sudah ada izin rehabnya dari BMPPT. Jadi kita tidak bisa apa-apa. Apalagi dari mengurus perizinan itu ada uang jutaan rupiah, pasti diberi izin,” kesalnya.

Untuk mempertahankan keberadaan BCB, tim pemeliharaan cagar budaya bentukan Sekretaris Daerah yang beranggotakan lintas instansi terkait, belum lama ini melakukan studi banding ke Yogyakarta. Tapi banyak dinas terkait yang tidak ikut, namun terdaftar dalam rombongan.

“BMPPT juga harus tahu, tapi kemarin studi banding malah tidak ikut. Jadi jangan asal-asalan ngasih izin. Padahal, kan, sudah tahu kalau itu bangunan cagar, eh tetap saja ngasih izin,” sesal Uum.

Baca: Segera Selamatkan Cagar-cagar Budaya

Hasil dari Yogyakarta, lanjut dia, ternyata di daerah tersebut tak ada aturan yang berkaitan dengan pemeliharaan cagar budaya, namun ada aturan terkait pemotongan PBB bagi pemilik cagar budaya.

“Seharusnya berkaitan dengan cagar budaya itu ada aturannya, tapi sulitnya tidak ada anggarannya. Terkait BCB yang ada di Kota Tasikmalaya, sudah diinventarisir oleh Balai Arkeologi Pusat, namun ditetapkan secara hukum belum dilakukan oleh pemerintah Kota Tasikmalaya,” paparnya.

Baca: Menyusuri Bangunan Cagar Budaya di Kota Tasikmalaya

Peneliti Soekapoera Institute, Muhajir Salam, menegaskan, cagar-cagar budaya itu merupakan jejak sejarah yang bisa memberi tahu bagaimana perkembangan satu daerah dari waktu ke waktu. Pemerintah seharusnya segera melakukan upaya serius untuk menjaga cagar-cagar budaya.

Menurutnya, Pemkot Tasikmalaya tidak berbuat banyak untuk menyelamatkan tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah. Sampai sekarang tidak ada upaya untuk membuat payung hukum untuk melindunginya. Belum punya peraturan daerah.

Padahal, itu diperlukan untuk memagari aset-aset penting yang menjadi saksi bisu pembangunan kota ini. Pemkot Tasikmalaya belum terlihat melangkah ke arah itu. Tak heran, banyak tempat bersejarah yang hilang. Pemerintah tidak bisa berkutik saat terjadi pembongkaran cagar-cagar budaya.

“Kalau mau dibangun apapun, silakan. Tapi struktur aslinya jangan dihilangkan. Kantor patih itu sekarang hilang semua. Diratakan. Mengejar nilai ekonomi tidak mesti menabrak nilai-nilai sejarah dan budaya. Mau digunakan apapun silakan, tapi struktur bangunan dasarnya jangan diubah,” tandas Muhajir.

Ia mencontohkan, salah satu cagar budaya yang perlu diselamatkan adalah gedung pengadilan (landraad) yang kini digunakan sekretariat FKPPI Kota Tasikmalaya. Itu salah satu bukti berdirinya Indonesia. Perjuangan pergerakan modern berawal dari sana.

Para tokoh-tokoh pergerakan di era 1920-an, seperti HOS Tjokroaminoto, H. Ismail, Tan Malaka, H Agus Salim dan lain-lain, disidangnya di sana. Itu saksi bisu persidangan kasus-kasus besar yang mengguncang Hindia Belanda. [Syaepul/Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?