Edukasi

Pelita Tasik Berharap Bisa Memberi Cahaya pada Redupnya Budaya Baca

initasik.com, edukasi | Masih muda dan semangat berkarya. Kecintaan terhadap dunia literasi terus tumbuh. Begitulah Pelita Tasikmalaya. Pelita adalah akronim dari Pemuda Literasi dan Aksi. Bergerak membumikan kepedulian terhadap sesama. Berupaya meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Mengabdi pada kemanusiaan melalui berbagai tindakan.

Siti Alinta Maryam, ketua Pelita Tasik, mengatakan, ia dan rekan-rekannya terdorong melakukan sesuatu setelah melihat keadaan sekitar. Banyak remaja seusianya yang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang negatif. Sedikit keinginan untuk berkarya dan beraksi dalam hal positif, sesuai dengan potensi yang dimiliki.

“Memang teman-teman di Pelita sendiri belum seutuhnya membudayakan literasi. Minimal sudah mau berkumpul saja dulu, nanti juga dengan sendirinya akan terdorong. Nanti, kita tanggal 17 Juni, menggelar santunan ke panti asuhan dan dhuafa di daerah sukarame,” ucap perempuan berusia 19 tahun itu.

Dia menceritakan, sebelumnya sudah bergerak dengan nama yang berbeda, yaitu Develop Natural Ability (DNA) Community, yang diinisiasi para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Bandung.

“Ada salah satu anggotanya yang asli Tasik. Namanya Teh Riska. Kita ngobrol-ngobrol coba kita buat yang lebih mandiri untuk Tasik. Soalnya kalau pakai nama DNA, kendalanya itu kaya yang kurang dikenal. Mungkin dari namanya saja, pakai bahasa Inggris, asa gimana,” tutur perempuan beralamat di Sindangsari, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, itu.

Dipilihnya Pelita, kata dia, sebagai harapan dan doa bersama untuk mewujudkan generasi muda yang bercahaya. Berusaha mengembalikan pola pikir, sikap, tindak generasi muda kepada hal positif, dan membangkitkan rasa kepedulian untuk mengembalikan jati diri pemuda yang penuh karya dan aksi.

“Berharap, kita bisa menjadi cahaya bagi mereka para pemuda yang kebanyakan menghabiskan waktu dengan hal tidak bermanfaat. Terelebih untuk di dunia literasi sudah mulai redup. Malas baca, malas nulis, lebih asyik main gadget dibanding membaca dan menulis,” sesalnya.

Ke depan, ia berencana membuka rumah baca dan menggelar perpustakaan jalanan juga. Ia ingin semua orang lebih mencintai dunia membaca dan menulis. [Syaepul]