Syaepul | initasik.com
Peristiwa

“Pembangunan Saat Ini Lahir dari Pola Pikir dan Mental yang Sangat Kacau”

initasik.com, peristiwa | Kondisi lingkungan kian parah. Tasikmalaya yang dikenal dengan sebutan kota seribu bukti mulai pudar. Gunung-gunung dikeruk tanpa beraturan. Gedung dan perumahan berdiri di lahan produktif. Pohon habis dibabat sampai tandus. Dalihnya demi pembangunan.

“Ini sudah sangat mengkhawatirkan, terutama bagi generasi anak cucu kita yang akan datang. Jika kita tidak memperbaiki diri, sama saja dengan bunuh diri. Kita harus membangun, itu sudah jadi kewajiban. Tapi pembangunan jangan hanya sebatas kongkalikong birokrasi sama pengusaha demi keuntungan sepihak. Kalau membangun, ya dengan kearifan akal sehat. Dengan budaya,” tutur Fauz Noor, budayawan Tasikmalaya.

Diwawancara usai mengisi diskusi Kebudayaan Wiyata Buana dengan tema “Melestarikan Kembali Nilai-Nilai Sunda sebagai Solusi Krisis Ekologi di Tasikmalaya,” yang diselenggarakan Komunitas AZAN, di Aula PSBA, MAN 2 Kabupaten Tasikmalaya, Minggu, 30 Juli 2017, ia mengungkapkan, semua itu terjadi dari akbiat pemahaman yang kurang kompherensif tentang alam.

Kerusakan lingkungan sangat mengkhawatirkan dengan adanya regulasi pembangunan yang tanpa memperhitungkan akibatnya ke depan. Idealnya, sebelum mengurusi permasalahan sosial, harus selesaikan dulu yang berkaitan dengan lingkungan. Kalau infrastruktur pembangunannya tertata benar, regolasi konsep sosialnya juga akan benar.

“Regulasi perumahan tidak memperhitungkan keseimbangan alam. Coba lihat pengerukan di wilayah Galunggung. Itu punya dampak yang tidak kecil buat masyrakat. Jangankan masyarakat nanti, sekarang pun sudah kerepotan dengan masalah itu,” yakin penulis novel Tapak Sabda dan Semesta Sabda itu.

Menurutnya, nenek moyang dulu mempunyai kearifan tentang alam yang sangat bagus. Gusti anu ngasih, alam anu ngasah, manusia anu ngasuh. Ngasuh itu merupakan simbol dari kasih sayang. Jadi, ketika memperlakukan alam itu harus dengan kasih sayang. Tidak seperti paradigma positivisme bahwa alam harus ditaklukan, dikeduk sehebat mungkin untuk kenikmatan manusia sesaat.

“Bisa jadi karena kurang informasi dan wawasan terkait itu. atau pemerintah tahu, tapi hanya mengeduk untuk keuntungan sesaat tanpa mempertimbangkan anak cucu. Diharapkan, melalui kegiatan ini, anak-anak muda tidak diam. Minimal bisa merasa bahwa ada masalah yang harus diperbaiki. Khusunya masalah tentang ekologi,” ungkapnya.

Dia berasumsi, kiamat dikonsepsikan sebagai kehancuran alam yang disebabkan kelakukan manusia. Salah satu ciri kiamat adalah matahari terasa tujuh tumbak. Bisa jadi, mataharinya tidak tambah dekat, tapi lapisan ozonnya rusak, sehingga panasnya seperti matahari yang tujuh tombak.

Sementara itu, Diwan Masnawi, ketua panitia, mengatakan, ekologi meruapakan isu global yang meresahkan masyarakat dunia. Kemajuan pembangunan sudah memasung dan menunggangi mahluk yang bernama manusia.

Padahal, pembangunan maju hanya secara manusia, tapi tidak secara ekosentris. Kemajuan dan kenikmatan yang dirasakan hanya untuk saat ini, tanpa memikirkan generasi yang akan datang.

“Kami ingin menyadarkan diri saya sendiri dan teman-teman, bahwa kondisi ekologi di Tasikmalaya, yang dulu masyhur di mana-mana sebagai kota seribu bukit, kota yang indah, air menggelontor di sungai-sungai, tapi sekarang terjadi kerusakan. Saya tidak mau seperti itu untuk nanti anak cucu saya,” paparnya.

Ia meyakini, nilai-nilai kasundaan akan mampu menghadirkan solusi untuk permasalahan yang sedang terjadi sekarang ini. Soalnya, pembangunan pada zaman dulu sangat modern, ada pembagian untuk pemanfaatan lahan. Ada lahan larangan, lahan titipan, lahan tutupan dan sebagainya. Itu sangat pas untuk digunakan saat ini.

“Kita merasakan bahwa sekarang itu ada masalah. Saya ingin menyadarkan masyarakat terkait hal itu. Pembangunan saat ini lahir dari pola pikir dan mental yang sangat kacau,” tandas mahasiswa UGM itu. [Syaepul]