Seni Budaya

Pencak Silat Mengajarkan Siapa Musuh yang Sebenarnya

initasik.com, seni budaya | Melalui pencak silat seseorang akan mampu mengenali musuh yang sebenarnya. Pencak memiliki arti panca kaki yang mengharuskan belajar padasejarah, mengetahui leluhur. Sementara silat bermakna menjaga dan mempertahankan silaturahmi, salat, dan salawat. Berarti, menjaga kasih sayang satu sama lain, memasrahkan diri, dan menebarkan rasa cinta terhadap sesama.

“Semua itu diajarkan dalam pencak silat, yang terkandung dalam tiga unsur, yaitu wiraga, wirasa, dan wirahma. Tiga unsur itu harus terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Suka duka dalam berkehidupan nyata diajarkan dalam silat,” tutur Dimas Tresna Adithya, ketua umum perguruan pencak silat Waringin Pusaka.

Menurutnya, silat itu mengandung nilai-nilai keluhuran, mulai dari sikap pasang, bertahan, dan menyerang, yang digambarkan dalam setiap gerakan. Semua itu tidak lepas dari tingkah laku kebudayaan Sunda, yang mengajarkan pentingnya kedisiplinan, cara berperilaku baik, dan mengolah jasamani dan rohani, lahir serta batin agar selalu bersih.

 

“Ketika kita ketemu dengan guru harus bagaimana, ketemu dengan yang di bawah umur bagaimana, ini semua mengajarkan pentingnya saling menghargai satu sama lain. Dan ketika seseorang sudah jago silat, musuh yang sebenarnya itu bukan orang lain melainkan diri kita sendiri,” tandasnya.

 

Dia menceritakan, musuh manusia yang utama adalah diri sendiri, ini merupakan wasiat yang disampaikan gurunya. Dan ini pengejawantahan dari arti silat sesungguhnya, bahwa pencak silat bukan untuk sok jagoan, mengalahkan orang, tapi membela diri, menangkis, dan berusaha menghentikannya dengan jurus kuncian.

“Karena melawan diri sendiri itu paling sulit dibanding melawan orang lain. Anu heuras leuleusan, anu kasar lemesan, anu teu boga berean. Ini yang menjadi pegangan setiap murid disini. Ketika kita ada yang menantang berkalih, berlari saja, menghindar. Kalau melawan kita kalah, kalau menghindar kita yang menang. Hakikatnya kita kalah, tapi syariatnya kita yang menang,” ungkapnya.

Ia menilai, mempertahankan seni tradisi, seperti halnya pencak silat sangat sulit dibanding merebut. Karenanya, sejak dini anak-anak diberikan pemahaman tentang arti silat tradisi dan demonstrasi keahlian ke kampung-kampung agar masyarakat mengenal.

“Kita bangga bisa melestarikan beladiri sendiri. Keturunan asli kita. Bangga bisa melestarikan seni tradisi dan silat prestasi serta ibingan yang menjadi ciri khas Jawa barat,” tandasnya.

Adapun yang menjadi kelebihan di perguruannya berkaitan dengan rasa kekeluargaan dan persaudaraan. Terbukti, dua perguruan bisa bersama-sama dalam mempertahankan dan menjaga seni beladiri tradisi, yaitu Waringin Pusaka dan Waringin Ligar. Pereguruan tersebut, tidak saling mengungguli dan menjatuhkan, padahal tidak sedikit perguruan yang satu guru, karena berbeda nama suka berselisih.

“Ini bentuk keberhasilan perguruan kami dalam menjaga kekeluargaan dan persaudaraan. Soalnya tidak sedikit perguan silat yang suka bentrok. Ego memang benar suka ada, tapi berusaha terus untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya kebersamaan. Tidak saling mengungguli,” ucapnya.

Perguruan pencak silat Waringin Pusaka dan Waringin Ligar, lahir sejak tahun 1982 dan memiliki sekretariat di Rancabeureum, Kelurahan Talagasari, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya. Beberapa kali pernah meraih juara dalam berbagai kejuaraan. Tidak lama ini meraih juara di pasanggiri tingkat kabupaten/kota, yaitu juara 2 kategori tunggal remaja, juara 3 kategori ganda desa, dan masih banyak lagi. [Syaepul]