Ilustrasi | Dok. initasik.com
Keluarga

Pendidikan Seks Penting Disampaikan kepada Anak

initasik.com, keluarga | Masih banyak orangtua yang menilai tabu soal pendidikan seks bagi anak. Padahal, kata Neni Sholihat, M.Psi, psikolog yang juga dosen di salah satu perguruan tinggi di Kota Tasikmalaya, itu sangat penting.

Menurutnya, saat anak menginjak usia tiga tahun, orangtua harus menyampaikan kepada anak soal pendidikan seks. Misalnya, memberi tahu anak tentang empat bagian tubuhnya yang bersifat pribadi dan siapapun tidak boleh menyentuhnya, termasuk anggota keluarga sendiri.

“Sampaikan kepada anak, siapapun yang menyentuh salah satu atau lebih empat titik itu dengan alasan sayang, anak harus tahu bahwa itu bukan cinta atau sayang, tapi justru membahayakannya. Keempat titik itu adalah mulut, dada, kemaluan, dan bokong. Siapapun yang menyentuh bagian-bagian itu, tegaskan pada anak bahwa orang itu tidak baik. Jauhi. Jika memaksa, teriak dan laporkan,” tutur Neni.

Ia mengakui masih banyak orangtua yang menilai tabu seputar pendidikan seks. Disangkanya mau membicarakan tentang hubungan kelamin. Padahal bukan. Bagian dari pendidikan seks itu di antaranya menyampaikan kepada anak kalau lelaki itu bagaimana dan perempuan itu bagaimana. Atau kenapa disebut lelaki dan kenapa disebut perempuan, atau juga jadi lelaki itu harus seperti apa dan perempuan seperti apa.

“Pendidikan seks itu menjadi pertahanan pertama bagi anak. Dia jadi paham apa yang harus dilakukannya saat ada orang yang berniat tidak baik terhadap dirinya. Apalagi sekarang zamannya sudah serbacanggih, sehingga banyak kejahatan yang dimulai dari telepon seluler,” tandasnya.

Baca juga: Berkaca pada Kasus-kasus Ini, Orangtua Harus Lebih Awas

Neni menegaskan, benteng pertama yang akan melindungi anak dari kekerasan seksual adalah keluarga. Orangtua harus mengontrol anak-anaknya setiap waktu, termasuk mengetahui kata kunci membuka telepon seluler yang dipegang anak.

“Sekarang banyak orangtua yang memberi kebebasan kepada anaknya untuk mengakses internet, baik melalui laptop atau telepon seluler. Tapi orangtua lepas begitu saja. Tanpa membekali pengetahuan bagaimana seharusnya menggunakan internet yang positif. Orangtua tidak bisa mengontrol anaknya. Password masuk ke hape anak saja orangtua tidak tahu. Itu bahaya,” bebernya.

Jika terpaksa harus memberikan anak-anak ponsel pintar, berlakukan syarat dan ketentuan. Misalnya, anak boleh diberi ponsel, tapi orangtua harus mengetahui kata kuncinya, sehingga kapan saja bisa mengakses ponsel yang dipegang anak. Itu bagian dari upaya kontrol. [Jay]