Siswa SMKN 2 Tasik jelang salat Zuhur | initasik.com
Edukasi

Penerapan Disiplin di SMKN 2 Tasik Sempat Diserang Wartawan Gadungan dan LSM

initasik.com, edukasi | Niat baik tak selalu diterima baik. Alih-alih didukung, malah dibendung. Ditentang dengan alasan melanggar hak asasi manusia. Begitulah yang dirasakan Wawan, kepala SMKN 2 Tasikmalaya.

Pada Mei 2015 ia berkunjung ke Jepang. Menjajaki kerja sama di bidang pendidikan dengan Wali Kota Okayama. Gayung bersambut. Tahun berikutnya tanda tangan nota kesepahaman. Wawan mulai membenahi sekolah. Salah satunya soal kedisiplinan. Porsi perhatiannya lebih besar untuk hal itu.

“Pengetahuan 20 persen, keterampilan 30 persen, disiplin 50 persen. Disiplinnya holistik. Semua warga sekolah harus disiplin. Kita ingin menciptakan sekolah yang memiliki kedisiplinan seperti industri-industri di Jepang. Pendidikan karakter itu sangat penting,” tutur Wawan.

Ia mencontohkan, salah satu kedisiplinan yang diterapkan di sekolahnya adalah waktu belajar dan mengajar. Bukan hanya siswa yang harus tepat waktu, gurunya juga sama. Bila ada yang melanggar, hukuman berlaku bagi siapapun.

“Bila ada anak yang bolos sampai tiga hari, kita berhentikan selama seminggu. Tidak boleh sekolah. Orangtua tidak senang. Mungkin lapor sama wartawan dan LSM. Datanglah mereka ke sini. Hampir satu tahun kami babak belur menghadapi orang-orang aneh yang mentang-mentang wartawan, LSM, dan ada juga yang mengaku anggota dewan (DPRD). Saya hadapi semuanya,” kisahnya.

Menurutnya, penerapan disiplin sangat penting bagi anak dan masa depannya. Jika tidak tegas, mereka tidak akan berubah. Tak terkecuali bagi warga sekolah lainnya, mulai penjaga hingga guru.

Ia mengatakan, bisa jadi ada orang dalam, seperti guru, yang tidak suka dengan kebijakan yang dibuatnya. Guru yang biasanya kerja semaunya, sejak aturan diterapkan, terusik. Saking banyaknya yang keberatan dengan cara Wawan mengelola sekolah, sampai ada orang luar yang mengjak dirinya berantem.

“Saya datangi dia. Tapi ternyata hanya mengancam. Omongannya saja yang gede. Setelah didatangi diam saja. Memang, selama menerapkan aturan di sekolah ini, terutama kedisiplinan, banyak yang tidak suka,” tandasnya.

Wawan bergeming. Meski banyak yang menentang kebijakannya, ia jalan terus. Diyakininya, penting menerapkan kedisiplinan pada anak. Apalagi, sekarang ini era persaingan yang sangat ketat.

Ikhtiarnya membuahkan hasil. Lulusan SMKN 2 Tasikmalaya sudah ada yang menimba ilmu di Jepang. Ada juga yang magang. “Siswa-siswa yang punya potensi tapi kurang mampu dalam ekonomi, kami arahkan untuk magang di sana. Sedangkan yang punya uang dan potensi, kami arahkan untuk sekolah. Tahun pertama untuk pengusaaan bahasa Jepang,” ucapnya.

Ditanya soal kualitas lulusan secara umum, Wawan menyebutkan, pada akhir tahun ajaran kemarin, banyak siswanya yang langsung diserap dunia kerja, meski mereka baru memiliki surat keterangan lulus. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?