M. Yusuf jadi inspektur upacara | Jay/initasik.com
Peristiwa

Pengakuan Dosa M. Yusuf dalam Apel Pertama sebagai Wakil Wali Kota Tasik

initasik.com, peristiwa | Setelah resmi menjadi Wali Kota Tasikmalaya dan Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman – M. Yusuf, menggelar apel pertama bersama para Aparatur Sipil Negara (ASN), di lapang bale kota, Rabu, 15 November 2017.

Lantaran kesehatannya terganggu, Budi menyerahkan posisi inspektur upacara kepada Yusuf, sekaligus perkenalan. “Hari ini saya sudah siap bekerja. Mulai hari ini kita akan bersama-sama membantu wali kota dalam membangun kota ini,” ujar Yusuf.

Menurutnya, sebagai wakil wali kota, tugasnya lebih dominan ke pengendalian dan pengawasan. Namun, tidak menutup kemungkinan ada tugas lain yang diberikannya untuk mewujudkan visi misi yang telah dibuat.

“Saya berharap seluruh program kegiatan di 2017 bisa diselesaikan dengan baik. Kita juga sudah mendapat banyak penghargaan, baik dari provinsi maupun pusat. Kita berharap penghargaan itu betul-betul bisa diaktualisasikan untuk kepentingan seluruh masyarakat,” tuturnya.

Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah tingginya angka kemiskinan. Ia mengajak seluruh ASN untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja dalam menuntaskan persoalan itu. Termasuk dalam penataan PKL alias pedagang kaki lima. Ia meminta permasalahan terkait para PKL diselesaikan dengan cara-cara yang santun dan manusiawi.

“Saya juga mendengar bahwa hari ini BPK masih ada di Kota Tasik. Saya berharap tidak ada masalah. Tidak ada temuan-temuan, apalagi kita sudah mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian. Untuk mendapatkan opini sangat sulit. Masih banyak daerah lain yang belum mendapatkannya. Tahun depan saya berharap opini itu masih kita pertahankan. Kita harus bekerja sama dengan baik dalam pengendalian dan pengawasan. Harus bahu-membahu menyelesaikan semua program kegiatan,” paparnya.

Dalam kesempatan itu ia bercerita, pertemuan pertamanya dengan Budi Budiman adalah sekitar 1994. Waktu itu Yusuf menjabat kepala UPTD Pasar Cikurubuk, sedangkan Budi masih jadi pengembang.

“Saya yang membentuk Hippatas dan HPKP, termasuk mungkin ada dosa saya adalah waktu saya membentuk pasar kojengkang di Dadaha. Waktu itu Dadaha sepi. Saya ingin meramaikannya. Saya dengan Pak Tarlan (sekarang kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Tasikmalaya) sama-sama membuka pasar kojengkang,” kata Yusuf.

Menurutnya, pembukaan pasar kojengkang itu tujuannya untuk mempertemukan para pedagang dengan pembeli. Maka didatangkanlah para pedagang dari berbagai daerah di Tasikmalaya, seperti tukang kelapa, ikan, gula dan lainnya.

“Waktu itu kita membuat 150 jongko dengan bahan bambu. Ukurannya 50cm x 1 meter. Selama satu bulan dua bulan hanya diisi oleh beberapa pedagang. Tidak banyak. Sekarang pedagang kojengkang itu katanya ada 700 lebih. Kita tahu, banyak pedagang yang bukan orang Kota Tasik, banyak yang dari luar. Itu harus kita selesaikan, sehingga tidak menjadi masalah di kemudian hari,” bebernya. [Jay]

Komentari

komentar