Tedi Saptarianto | Dan/initasik.com
Informasi

Pengelola Objek Wisata Galunggung Ternyata Bukan Perhutani Tasikmalaya

initasik.com, informasi | Objek wisata Cipanas Gunung Galunggung ternyata bukan dikelola oleh Perum Perhutani KPH Tasikmalaya. Sejak tiga tahun lalu pengelolaannya sudah diserahkan kepada institusi lain.

Junior Manajer Bisnis Perhutani KPH Tasikmalaya, Tedi Saptarianto, menyebutkan, khusus untuk pengelolaan Cipanas Galunggung sudah lagi bukan ranah Perhutani KPH Tasikmalaya. “Dulu memang kewenangannya ada di kami. Terus sempat juga keluar masuk pelimpahannya. Tapi sejak tahun 2014 lalu, objek wisata Galunggung sudah resmi dilimpahkan ke KBM,” ujarnya saat dikonfirmasi initasik.com di kantornya, Rabu, 27 Desember 2017.

KBM yang dimaksudnya adalah Kesatuan Bisnis Mandiri Industri Perum Perhutani unit III (Jawa Barat & Banten). Kantornya di Bandung. “Itu biar lebih profesional, karena KBM khusus untuk mengelola wisata, sedangkan KPH kan banyak, mulai dari wisata, perencanaan, dan penebangan. Jadinya tidak fokus,” tutur Tedi.

Adapun KPH, sambungnya, hanya menaungi kawasan wisata rintisan. Setelah terkelola dengan baik, objek wisata itu dilimpahkan ke KBM. Saat ditanya soal retribusi, Tedi mengaku pengelolaannya langsung oleh KBM.

Pihaknya tidak memiliki kewenangan lagi. Bukan hanya soal retribusi, untuk pengawasanpun sudah bukan ranahnya. Tapi, bila objek wisata itu sudah tidak lagi banyak pengunjung, pengelolaannya diserahkan kembali ke KPH.

Ia mencontohkan, salah satu objek wisata yang pernah menjadi kewenangan KBM dan dilimpahkan lagi ke KPH adalah rest area Urug, Kawalu. “Tapi ke depannya mungkin Objek wisata yang telah maju pun bisa dikelola oleh kami,” imbuhnya.

Menurutnya, saat ini ada sekitar delapan kawasan wisata rintisan yang masih menjadi kewenangan KPH, seperti Batu Hanoman, Curug Batu Black, Curug Gado Bangkong, Curug Ciparay, dan Curug Dendeng.

“Yang aktif kami kelola sekarang ada delapan titik. Untuk Urug kami sedang melakukan tahap pengembangan, bekerja sama dengan pihak lain. Kami masih kesulitan anggaran pengembangan objek wisata rintisan. Anggaran ada, tapi sedikit. Untuk biaya perawatannya juga masih memanfaatkan dari pemasukan karcis,” tuturnya. [Dan]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?