Etalase

Penjualan Kulit Beduk Tahun Ini Mengerut

initasik.com, etalase | Para penjual kulit beduk merengut. Pendapatan tahun ini merosot. Beda dengan sebelumnya. Eris Riswandi, 42 tahun, merupakan penjual kulit beduk yang mangkal di Jl. Paseh, Kota Tasikmalaya. Ia sudah 20 tahun menekuni pekerjaan musiman itu. Di luar Ramadan, ia membuat kerupuk kulit.

Kendati musiman, pendapatan dari menjual kulit beduk memang bisa diandalkan. Tapi, itu dulu. Sekarang beda. Ada penurunan. Kendati begitu, Eris tetap melakoni usahanya, berharap ada perubahan jelang lebaran nanti.

Ia menjelaskan, bahan kulit yang biasa digunakan untuk beduk ada dua, yaitu kulit sapi dan kulit kerbau. Dua-duannya punya kelebihan tersendiri. Untuk masalah keawetan, Eris menyarankan untuk memakai kulit kerbau yang cenderung kulitnya lebih tebal. Tapi untuk masalah suara, kulit sapi pilihannya.

Dari segi hargapun berbeda. Kulit kerbau harganya Rp 100 ribu lebih mahal ketimbang kulit sapi. Soal keawetan, Eris menyebutkan, kulit sapi bisa bertahan sampai tiga tahun, sedangkan kulit kerbau bisa sampai tujuh tahun.

“Kalau harganya tergantung ukuran. Untuk ukuran drum yang sering digunakan itu harganya Rp 300 ribuan, kalau drum yang diameternya satu meter duapuluh, harganya kitaran Rp 600 ribuan,” sebutnya.

Eris mengaku, penjualan kulit beduk tahun ini menurun drastis, dibanding sebelumnya. Tahun kemarin, sepekan sebelum Ramadan, ia sudah menjual 12 lembar kulit. Sekarang, sampai pekan kedua Ramadan baru terjual 5 lembar.

Hal serupa dialami Ai Sulastri, penjual kulit beduk di Jl. Borolong, Kabupaten Tasikmalaya. Menurutnya, saat ini omzet dari penjualan kulit bedug menurun, dari tahun kemarin. Ia masih bertahan jualan, lantaran punya pelanggan dari luar kota. [Eri]