Pintu masuk pentas lumba-lumba di Kota Tasikmalaya | Eri/initasik.com
Peristiwa

Pentas Lumba-Lumba, Sarana Edukasi atau Ajang Eksploitasi?


initasik.com, peristiwa | Sebuah spanduk segi empat ditempel di salah satu pohon di Jl. Ibu Apipah, Kota Tasikmalaya. Isinya soal pemberitahuan sekaligus ajakan untuk menyaksikan pentas lumba-lumba dan aneka satwa, di Dadaha.

Pertunjukan yang menjadikan lumba-lumba sebagai “pemain” utamanya itu telah lama jadi perdebatan. Benarkah itu sarana edukasi atau ajang eksploitasi hewan yang semestinya hidup berkoloni di laut lepas?

Berdasarkan hasil observasi Jakarta Animal Aid Network, seperti dilansir lama hipwee.com, sebelum beratraksi, lumba-lumba dibiarkan lapar agar hewan pintar itu mengikuti pelatihnya dengan iming-iming ikan. Disuruh apapun mau.

Bukan hanya itu. Kolam tempat lumba-lumba beraksi sangat sempit. Beda dengan habitat aslinya. Di laut, dalam sehari mereka bisa berenang hingga ratusan kilometer. Selain itu, sorakan dan tepukan penonton bisa membuat hewan tersebut mengalami gangguan resonansi yang berujung pada kematian. Dijelaskan, menikmati dan membiarkan lumba-lumba jadi “artis” sirkus sama dengan memisahkan mereka dari kehidupan sesungguhnya. Jauh dari koloni.

Muncul pertanyaan, edukasi apa yang disuguhkan dalam pentas lumba-lumba itu? Nilai pendidikan seperti apa yang ada di baliknya? Dalam acara yang digelar selama satu bulan lebih itu akan menampilkan dua lumba-lumba. Ada juga hewan lain, seperti burung kakak tua, Linsang, dan Beruang madu.

Dalam sehari, biasanya mereka akan beratraksi selama empat sampai enam kali. Tarif masuknya Rp 35 ribu. Untuk Sabtu dan Minggu tarifnya lebih mahal. Jadi Rp 40 ribu. Bagi pengunjung yang ingin difoto bersama lumba-lumba, panitia tidak melarang. Tapi ada biaya tambahan Rp 40 ribu.

Penanggung jawab lapangan pentas lumba-lumba di Kota Tasikmalaya, Ali Sodikin, menyebutkan, pihaknya biasa menggelar pentas di sekitaran Jawa Barat. Satu kota dijeda dua tahun.

Ia mengaku tak sependapat dengan tudingan adanya aksi eksploitasi dalam pentas lumba-lumba. Menurutnya, hewan itu  sangat dirawat dengan baik, mulai dari diberikan vitamin sampai dilakukan pengecekan kesehatan secara rutin.

“Kami ada dokter khusus dari Semarang yang memelihara kesehatan lumba-lumbanya. Segala hal menyangkut kesehatan lumba-lumba kami perhatikan,” ujarnya.

Lumba-lumba yang digunakan untuk atraksi itu berasal dari daerah Kendal, Jawa Timur. Katanya, di sana ada sekitar 20 ekor lumba-lumba.  Dalam sehari, lumba-lumba yang diatraksikan dalam pentas ini menghabiskan sekitar 20 kilogram ikan. “Tidak ada eksploitasi hewan di sini. Setiap hari mereka kita jaga,” ucapnya. [Eri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?