Feri | initasik.com
Etalase Sentra Industri

Perajin Golok Galonggong Andalkan Wisatawan Lokal

initasik.com, sentra industri | Golok Galonggong disebut-sebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu.  Usaha turun-temurun. Berjaya di era 70-an. Kini, nasib para pembuat golok di Kp. Galonggong, Desa Cilangkap, Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya itu tak setajam dulu. Terbilang sepi pembeli.

Para perajin hanya mengandalkan wisatawan lokal yang hendak pergi ke Pangandaran atau Jawa Tengah. Itupun hanya satu dua. Beda dengan dulu, saat musim transmigrasi. Para petani dari daerah Jawa membawa golok Galonggong, karena kualitasnya teruji.

Di pasar lokal pun sama. Golok Galonggong meraja. Namun, seiring semakin berkurangnya lahan pertanian yang diubah jadi pabrik dan perumahan, nasib bedog yang terkenal karena ketajaman dan keawetannya itu kian merana. Padahal, dari dulu kualitasnya tidak berubah. Sama saja.

Haris, salah seorang perajin golok, memaparkan ciri khas produknya. “Perbedaan bedog Galonggong dengan golok yang lain adalah gagang golok yang terbuat dari tanduk kerbau betina. Ciri khas lain terdapat pinggul di badan golok,” sebutnya.

Soal harga, itu tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan golok. Rata-rata, harganya berkisar di angka Rp 100.000 sampai Rp 300 ribu. Kecuali untuk jenis tertentu, harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

“Untuk pemasaran kita masih mengandalkan wisatawan lokal yang kebetulan melintas di jalan ini. Selain itu kita juga rutin menerima pesanan dari luar Jawa, misal Sumatera, Kalimantan bahkan dari Sulawesi,” sebutnya. [Feri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?