Seni Budaya

Perisai Diri; Satu Khazanah Seni Bela Diri Tradisional

initasik.com, seni budaya | Perisai Diri merupakan salah satu khazanah seni bela diri tradisional di Indonesia. Beragam teknik diajarkan dalam pencak silat berlatarkan seni ini, mulai dari senam kombinasi, sikap (jurus), teknik bertarung dengan senjata, sampai teknik  yaitu andalanya,serang hindar.

Dalam Perisai diri ada beberapa tingkatan yang dikelompokkan dengan istilah pemula, dasar, dan keluarga. Dari ketiga tingkatan itu ada sekitar 13 ujian kenaikan tingkat yang perlu dilewati dengan rentang waktu yang berbeda-beda.

Mulai dari pemula (sabuk putih) ke dasar 1 (strip hitam), lalu ke dasar 2 (sabuk hitam), kemudian masuk ke calon keluarga. Dibarengi dengan pergantian warna sabuk menjadi merah, hanya saja di bajunya belum mendapatkan badge (Logo yang akan menjadi tempat simbol tingkatan selanjutnya).

“Setelah calon keluarga, baru masuk ke keluarga. Ciri khasnya ada badge di bajunya, hanya saja belum ada simbol khusus dari tingkatan selanjutnya,” sebut Aldi Mochammad Rijaldi, salah seorang pelatih Perisai Diri di Tasikmalaya.

Menurutnya, di Perisai Diri tidak semua tingkatan berada pada pergantian sabuk. Di sini, pergantian sabuk hanya 3 kali, yaitu dari putih, ke strip hitam, lalu ke hitam, dan merah. Selebihnya dilihat dari logo atau badge di bagian dada kiri pada seragam.

“Kalau tingkatan sudah di atas keluarga, nanti di badge itu akan ada lagi strip kecil dengan beragam warna, mulai dari putih, putih hijau, hijau, hijau biru, biru, biru merah, merah, merah kuning, sampai kuning,” terangnya.

Kalau sudah kuning, menurut Aldi itu merupakan tingkatan tertinggi. Disebut dengan istilah pendekar. Untuk menempuh tingkatan pendekar, setidaknya perlu waktu selama kurang lebih 17 tahun lamanya. Itupun kalau setiap ujian lulus.

Semakin tinggi tingkatan, semakin banyak ilmu dan juga jurus yang harus dikuasai, terutama dalam penguasaan senjata, seperti samurai, tongkat, double stick, cerulit, payung, sampai kipas lipat. “Jangan salah. Dalam Perisai Diri, apapun bisa digunakan sebagai media pertahanan. Contohnya itu, payung dan juga kipas lipat,” imbuhnya.

Tentang teknik serang hindar ia menjelaskan, pesilat dituntut gerakan spontanitasnya. Karena menurut Aldi, apa gunanya masuk bela diri jika tidak bisa mengatasi serangan mendadak. “Di luar sana, orang ngga mungkin mau memukul bilang dulu. Di situlah kerefleksan kita diuji. Itu menjadi hal yang wajib di Perisai Diri,” tandasnya.

Setiap latihan, para pesilat melatih refleksnya itu dengan cara menghindar dari lawan yang akan memukul. Tanpa aba-aba dan tanpa diduga-duga. Menurutnya, serang hindar itu merupakan materi andalan dari Perisai Diri.

“Konsentrasi dan penyatuan antara jiwa dengan raga sangat penting dalam melatih materi ini. Karena saat ujian nanti, mata para peserta kenaikan tingkat akan ditutup, dan mereka harus bisa menghindari pukulan, tendangan yang diberikan lawan dari berbagai sisi,” paparnya. [Dan]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?