Permainan paciwit-ciwit lutung | Jay/initasik.com
Seni Budaya

Permainan Tradisional Bukan Sekadar Pengisi Waktu Luang

initasik.com, seni budaya | Paciwit-ciwit lutung nu handap pindah ka luhur…. Paciwit-ciwit lutung nu handap pindah ka luhur.… Jauh sebelum ada telepon pintar, pada era 1980-an, permainan itu biasa dimainkan anak-anak, kapanpun dan di manapun.

Dilakukan minimal oleh dua orang. Masing-masing mencubit punggung tangan lawan main sambil melantunkan kawih alias lagu di atas. Berurutan. Dari mulai jongkok sampai berdiri. Siapa yang nanti tangannya berada di paling atas, dia yang menang.

Bukan hanya menyenangkan, permainan itu juga memiliki makna yang dalam. Irwan Dwiwanto, pegiat Ichikibung, komunitas pecinta kaulinan tradisional, menjelaskan, filosofi dalam permainan paciwit-ciwit lutung adalah agar kita selalu kuat dan sabar ketika berada di bawah, karena pada saatnya tiba pasti akan di atas.

Kudu kuat, da hiji waktu urang pasti pindah ka luhur, panggih jeng kabungah. Rumus dunya emang kitu. Berputar,” ujar pria yang akrab disapa Abah Irwan itu di sela Festival Kaulinan Urang Lembur, di salah satu tempat wisata alam di Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Senin, 1 Januari 2018.

Ia mencontohkan permainan lain yang juga sarat pesan, yaitu congklak. Menurutnya, dalam media congklak ada tujuh lubang kecil dan lubang besar. Ketujuh lubang itu merupakan representasi dari nama-nama hari, mulai Ahad sampai Sabtu. Sedangkan lubang besar disebutnya ibu.

“Urang kudu bisa ngeusian di tiap poe ku hal-hal anu berharga. Oge ulah poho, di indung oge kudu ditundaan. Kaulinan eta ngajarkeun perjuangan, kajujuran, jeng silih hargaan. Sok sanaos beda kahayang, urang tetep kudu aya hormat. Matak dina congklak mah lubang lawan oge dieusian, tanda silih hargaan,” tuturnya.

Menurutnya, di Tatar Pasundan ada sekitar 2.500 permainan tradisional yang jarang dimaikan. Sebagian besar bisa dikatakan punah. Orangtua lebih senang memberi anaknya game dalam telepon untuk mengisi waktu kosongnya, ketimbang mengajarkan permainan-permainan itu.

Melalui Festival Kaulinan Urang Lembur, ia berharap anak-anak sekarang jadi mengetahui bahwa ada banyak permainan tradisional yang bukan hanya membuat sehat, karena menggerakkan fisik, tapi juga mempunyai pesan-pesan luhung bagi kehidupan.

Selain paciwit-ciwit lutung dan congklak, dalam kesempatan tersebut juga dimainkan engrang atau jajangkungan, pecle, oray-orayan, salam sabrang, dam-daman dan permainan lainnya. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?