Olahraga

Persikotas Terpuruk

Kota Tasik | Bicara tentang olahraga, rasanya tak afdol jika tidak menyebut sepakbola. Sejak 2 November 2002, kota ini resmi mempunyai persatuan sepakbola Indonesia Kota Tasikmalaya (Persikotas). Itu tertuang dalam SK kep/022/PSSIJbr/xl/2002.

Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Kota Tasikmalaya, H. Djedjen Z. Mustofa, mengakui, saat ini kondisi Persikotas tengah terpuruk. Jangankan prestasi, untuk ukuran ruang sekretariatnya saja tidak jelas. “Persikotas teh aya mah aya, teu katingali wujudna,” sindir pria yang pernah menjabat sekretaris umum Persikotas selama dua periode, sejak 2002 s.d. 2010 itu.

Ia mengaku sangat menyayangkan kondisi Persikotas sekarang. “Sebagai pendiri dan sudah berjuang hingga menjadi juara nasional divisi III, serta naik peringkat ke divisi II, bukan pengorbanan yang sedikit. Mohon prestasi itu dapat dipertahankan, terutama kepengurusannya yang memiliki komitmen dan merasa memiliki,” bebernya seraya menegaskan, predikat juara nasional itu didapat setelah perjuangan delapan tahun.

Untuk itu, Djedjen mengharapkan, pemerintah Kota Tasikmalaya memberikan perhatian lebih, dan pengurus yang sekarang harus disempurnakan. “Mudah-mudahan wali kota, wakil wali kota, dan sekda yang telah merespons informasi tentang Persikotas, dapat menindaklanjuti secepatnya. Lebar atuh, kenging hese cape,” tandasnya.

Kegeraman serupa pun dirasakan Dede Ruhimat. Pria yang akrab disapa Dede Persib ini malah tengah berancang-ancang membuat wadah masyarakat peduli sepakbola Tasikmalaya (Mapesetas). “Itu sedang kami godok. Intinya, nanti Mapesetas akan membangunkan semua pihak, terutama pemerintah, untuk membangkitkan lagi Persikotas,” sebutnya.

Upaya itu, sambungnya, merupakan bentuk kecintaan pada tanah kelahiran. Menurutnya, Persikotas harus bangkit dan berprestasi lagi. “Sebelumnya mungkin kita tidak tahu ada daerah bernama Wamena. Tapi setelah ada tim Persiwa Wamena yang bertanding di ISL (Indonesia Super League, red), semua orang jadi tahu ada daerah itu. Saya harapkan Kota Tasik pun nanti seperti itu. Sekarang, orang-orang luar pulau belum pada tahu tentang Kota Tasik. Mereka tahunya Bandung,” beber Dede.

Padahal, kata Dede, potensi atlet-atlet sepakbola di Kota Tasikmalaya itu sangat banyak dan berkualitas. Ia menyodorkan nama Tantan dan Imam. Keduanya main di Persija versi IPL. Selain itu, bibit-bibit yang kini tengah menimba ilmu di sekolah-sekolah sepakbola banyak yang jempolan.

“Kasihan mereka. Setelah berlatih sejak dini, mereka tak punya tempat bermain yang membanggakan. Untuk itu Persikotas harus bangkit lagi. Persikotas kudu dihudangkeun. Kumaha we carana mah. Tong eleh ku Ciamis, nu geus boga sarana prasana nu hade,” tandas Dede.

Ia mengaku salut kepada Ir. H. Endang Suhendar (almarhum) ketika menjabat ketua umum Persikotas periode 2006 s.d. 2010. Dialah salah seorang sosok yang mengantarkan Persikotas menjadi juara nasional divisi III. “Ayeuna can aya jalma nu jiga Pa Endang. Jeung politikus mah hese. Matak kudu digeuingkeun ku urang-urang,” tegasnya.

Ketua Tazmania, sebutan untuk suporter Persikotas, Andi, mengeluarkan pendapat senada. Ia mengaku kecewa dengan kinerja para pengurus Persikotas sekarang. Menurutnya, keterpurukan Persikotas selama ini disebabkan kurangnya peran aktif, serta banyaknya permasalahan yang ada dalam struktur kepengurusan, termasuk dalam segi pengelolaan dana operasional dan yang lainnya.

“Itu perlu secepatnya dilakukan perbaikan. Jika dibiarkan, nantinya akan lebih fatal. Prestasi persepakbolaan kota ini akan terus makin buruk, sehingga dapat mematikan rasa antusias masyarakat. Untuk itu, kami sangat menuntut kepada pemerintah agar sesegera mungkin melakukan perombakan di tubuh kepengurusan Persikotas,” paparnya. initasik|ashani 

Komentari

komentar