Sosial Politik

Pertanian Harus Jadi “Leading Sector” Perekonomian di Kabupaten Tasik

initasik.com, politik | Pertanian di Kabupaten Tasik, terutama bagian selatan, diharapkan mampu menjadi sektor andalan yang memiliki ketangguhan dan kemampuan tinggi, sehingga dapat dijadikan tumpuan harapan pembangunan ekonomi masyarakat di Kabupaten Tasikmalaya.

Soalnya, daerah Tasik Selatan sangat strategis untuk dijadikan tempat pertanian. Terlebih, kawasan tersebut hanya bisa dimanfaatkan dengan dijadikan lahan pertanian dan peternakan.

“Sedikitnya ada 12.200 petani yang dibentuk menjadi 56 kelompok tani. Makanya saya selalu melakukan kunjungan rutin ke setiap kelompok tani, itu saya lakukan setiap hari Senin, Selasa, Rabu, dan Sabtu kadang siang hari, kadang malam hari dilakukannya,” kata H. Zaenal Hapili, anggota Komisi II DPRD Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut dia, pencalonannya dulu menuju anggota dewan merupakan salah satu upaya untuk mendorong pemerintah agar memberikan perhatian lebih pada bidang pertanian dan peternakan di Tasik Selatan. Karenanya, setelahnya jadi sekarang, tidak sedikit dana aspirasinya di peruntukkan untuk kepentingan pertanian. Salah satunya, untuk pembangunan bendungan Cimedang sehingga mampu mengairi 120 hektar pesawahan.

“Dulu kurang perhatian dari pemerintah, jadi saya naik itu sebagai keterwakilan dari masyarakat petani dan ulama. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada petani yang komplain. Kalau berhasil, maka salah satu desa di Cikatomas nantinya akan menjadi lumbung padi untuk Kabupaten Tasikmalaya,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia, pemerintah daerah melalui dinas berusaha memberikan pembinaan dan pemahaman kepada petani tentang pola tanam dan pemanfaatan lahan. Dilakukan untuk merubah paradigma yang saat ini terjadi, yaitu petani masih memanfaatkan lahan pesawahan ketika habis musim panen di tanami pepohonan sehingga tidak lagi ditanami padi.

“Animo masyarakat masih ke padi, padahal hanya daerah Cogreh saja yang punya lahan teknis. Artinya, lahan pesawahan ini selain dimanfaatkan untuk menanam padi juga diselangi menanam palawija. Harus adanya perubahan pola tanam di masyarakat, jangan sampai hanya padi, padi, dan padi saja,” ujarnya.

Dia beranggapan, kalau petani sudah mampu merubah paradigmanya terhadap pertanian, maka Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya akan mampu menjadi penyuplai Palawija dan Sayuran.

“Sawah tadah hujan bukan ditanami palawija, tapi menjadi kayu. Jadi BP3K ini harus bergerak aktif, soalnya saat ini sayur-sayuran di pedesaan itu sudah sangat sulit karena tertutup oleh tanaman kayu,” terangnya.

Karenanya, Balai Penyuluhan, Pertanian, dan Perikanan, Kehutanan (BP3K), harus berperan aktif dalam melakukan pembinaan kepada masyarakat. Pemerintah memberikan perhatian lebih kepada BP3K agar mampu bekerja secara maksimal dengan diberikan anggaran yang memadai.

“Tanpa kegiatan penyuluhan pola tanam masyarakat sulit untuk berubah, karena dengan penyuluhan itu masyarakat bisa berubah. Buktinya, karena masyarakat tidak menggunakan pola tanam yang baik berakibat paceklik ketika datang musim kemarau,” tandasnya. [Millah]