Peristiwa

Pidi Baiq: Aku Sedang Menghinakan Ibuku

Kota Tasik | Banyak yang beranggapan kalau menulis itu susah. Alhasil, meski sudah duduk lama di depan komputer, satu tulisan pun tak rampung. Jangankan berpuluh-puluh halaman, satu halaman saja tidak tuntas. Inginnya langsung sempurna, sementara prosesnya diabaikan.

Pidi Baiq, penulis banyak novel dan vokalis The Panasdalam, punya sudut pandang lain dalam soal berkarya, seperti menulis. Diwawancara usai tampil di salah satu mal di Kota Tasikmalaya, Sabtu, 21 November 2015, ia menegaskan tentang pentingnya berkarya.

“Kalau tidak berkarya, maka aku sedang menghinakan ibuku. Seolah-olah dia seorang yang tidak berguna, karena anaknya tidak bisa berkarya. Berkaryalah untuk menaikkan derajat ibumu. Ia adalah orang hebat yang telah melahirkan anak yang mampu berkarya,” tuturnya dengan nada serius tapi santai.

Pria yang akrab disapa ayah itu menjelaskan, menulis adalah aktivitas yang mengacu pada kemampuan diri sendiri, tidak terpaku pada orang lain. “Kamu pasti memiliki kelebihan tersendiri yang berbeda dengan orang lain. Punya khas sendiri yang orang lain tidak miliki. Jadi, percaya pada kekuatanmu sendiri. Kalau kamu sukanya fantasi, ya berfantasilah. Kalau kamu sukanya drama, ya tulislah drama,” saran penulis novel “Dilan” itu.

Menurutnya, sebuah tulisan disebut bagus bila memberikan peluang kepada orang lain untuk merasakannya dan memberikan citra. “Biarkan orang lain berpersepsi sendiri terhadap tulisan itu,” tandasnya.

Di akhir perbincangan ia menyelipkan pesan, “Sesungguhnya hidup itu senda gurau, karena yang sebenarnya hidup itu di akherat nanti. Dan, jihad yang sesungguhnya adalah melawan musuh yang ada dalam dirimu.” initasik.com|syamil

Komentari

komentar