Sosial Politik

PKL Dadaha Menangis Dipindahkan ke Tempat Baru

initasik.com, sosial | Heni Maryani, salah seorang pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di pinggir lapang Dadaha dan sekitarnya, Kota Tasikmalaya, menangis sesenggukan saat ia dan teman-temannya dipindahkan ke tempat baru, Kamis, 11 Januari 2018.

Sehari-hari Heni dagang cilor alias cilok telor. Dari jualannya itu biasanya ia dapat uang sampai Rp 259 ribu. Tapi, sejak dagang di tempat baru, ia mengaku hanya dapat Rp 11 ribu. “Kanggo bekel murangkalih sakola ge dugi nambut,” ujarnya dengan nada terbata-bata.

Hal serupa dialami Sri Devi dan pedagang lainnya. Sejak pindah ke shelter, penjualanya menurun drastis. “Kemarin saya jualan di kios cuma dapet Rp 1.500 sehari. Ibu Yayah (penjual es kelapa) juga biasanya bisa dapat Rp 200 ribu, kemarin cuma dapat Rp 4 ribu,” sebutnya.

Pemindahan para PKL ke tempat baru tadi pagi diwarnai macam-macam respons pedagang. Ada yang menangis, marah-marah, dan duduk termenung. Rencananya, mereka akan membakar roda sebagai bentuk perlawanan, tapi digagalkan petugas Satpol PP Kota Tasikmalaya.

Saat petugas menggagalkan aksi itu, sebagian PKL melontarkan kemarahannya. “Lihat para pedagang di sini, wahai para pejabat. Mereka kelaparan. Jangan hanya duduk-duduk di kantor. Saya minta para anggota dewan turun ke bawah. Jangan go***g. Pengecut. A****g semua,” lantang Ade Sumpena, perwakilan PKL.

Ia mengaku sangat kecewa kepada Pemkot Tasikmalaya yang telah memindahkan para PKL. Padahal, keberadaan mereka tidak mengganggu para pengguna jalan. Beda dengan PKL di Cihideung dan Jl. KH Zainal Musthafa.

“Saya sangat kecewa kepada Pemkot Tasikmalaya. Mereka cuma berpihak kepada para pengusaha besar. Rakyat-rakyat kecil ditindas. Bohong kalau pemerintah itu sayang rakyat,” tandasnya. [Dan]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?