PKL Nyemen Bebas Jualan, WTS Obral Harga
Historia

PKL “Nyemen” Bebas Jualan, WTS Obral Harga

Agar tidak menggoda orang-orang yang tengah menjalankan ibadah puasa, para PKL di Kotip Tasikmalaya dilarang berjualan di tempat mencolok. Mereka juga diharuskan memasang layar untuk gerobak. Deratan pedagang makanan di terminal Gn. Pereng menutup rodanya dengan kain. Di luar tampak sepi, tapi di dalam banyak orang yang santap makan. Begitu diberitakan Pikiran Rakyat, Selasa, 3 Mei 1988.

Bukan hanya pedagang makanan yang boleh berjualan, para wanita tunasusila (WTS) pun tidak dilarang menjajakan dirinya saat bulan Ramadhan. Malah, jumlahnya meningkat dibanding bulan biasa.  Harian Umum Bandung Pos, Senin, 9 April 1990, melaporkan, puluhan WTS secara bergerombol mangkal di depan bioskop Hegarmana, bioskop Nusantara, dan dekat Masjid Agung Tasikmalaya.

Dinas Sosial bersama instansi terkait sudah berupaya menekan kegiatan WTS beroperasi di bulan Ramadhan. Namun, itu tak berhasil. Peringatan petugas tidak digubris WTS. “Kita perlu bekal untuk Hari Raya nanti di kampung,” ujar Yanti, 22 tahun, janda beranak satu, warga Ciamis.

Ia menuturkan, selama Ramadhan dirinya mendapat banyak tamu. “Para pedagang yang berjualan di Tasikmalaya sebagian besar tidak membawa istrinya. Itu kesempatan bagi kami merayu mereka. Tempat “bermain”, di mana saja jadi. Kami sering “main” di kios-kios tempat mereka berdagang di jalan Cihideung Gede,” ungkap Yanti.

Kalau mereka tidak punya uang, sambung Yanti, ia cukup minta satu baju kaos untuk sekali “main”. initasik.com|shan

Komentari

komentar