Peristiwa

Plus – Minus Penataan PKL Cihideung

Kota Tasik | Baru juga dibagikan, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di Cihideung mengaku kecewa dengan kondisi roda hibah dari Pemerintah Kota Tasikmalaya yang diberikan dalam program penataan PKL.

Mereka mengeluhkan soal beberapa bagian roda yang sudah rusak, padahal belum dipakai. Ada yang engselnya lepas, ban kempes, pintu goyang, atau ukurannya terlalu kecil dibanding lapak semula.

Asep, penjual pakaian, mengutarakan kebingungannya setelah mencoba memakai roda, dan ternyata semua barang dagangannya tidak muat. Ia pun kesulitan menggantung beberapa pakaian, karena tidak ada dudukannya. Belum lagi setelah beres jualan, roda akan disimpan di mana? Disimpan digudang penyimpanan, sudah penuh. Kalau dibiarkan begitu saja di jalan, khawatir dirusak orang.

“Kemarin, waktu masih pakai roda biasa mah enak. Ukurannya pas. Barang dagangan bisa dijajakan semua. Roda yang dari pemerintah ini mah cocoknya untuk pedagang nasi, kalau untuk pakaian tidak cocok,” tuturnya di sela memajang pakaian di roda barunya, Senin, 21 Desember 2015.

Sementara Triyanto, pedagang bakso, mengatakan, ia harus mengubah dulu beberapa sisi roda agar bisa digunakan dagang. Setelah dihitung, setidaknya ia mesti menyiapkan Rp 500 ribu untuk menambah pintu, membuat lubang penyimpanan wadah, dan lainnya.

Asep dan Triyanto adalah dua dari 332 PKL Cihideung yang mendapatkan roda dagang pemberian Pemkot Tasikmalaya. Untuk kali pertama, para PKL di Cihideung penempatannya ditata. Roda diseragamkan. Ukuran dan bahannya pun sama.

Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, mengatakan, penataan itu merupakan upaya pemerintah mempermak wajah kota agar lebih baik. “Kita berkomitmen membangun Kota Tasikmalaya menjadi lebih nyaman, asri, dan aman,” ujarnya seusai peresmian penataan PKL di Jl. Cihideung.

Ia menyebutkan, pemerintah memberikan roda berukuran 180 cm x 120 cm yang dilengkapi atap kain itu dengan cuma-cuma. Anggaran sebesar Rp 1,2 miliar lebih yang diambil dari APBD kota digelontarkan untuk penataan PKL Cihideung.

ini juga: Awas! Jangan Belok Kiri ke Jl. Cihideung

Selain roda, para PKL pun diberi satu lembar surat keterangan tempat usaha sebagai bukti legalitas berusaha. Sedangkan untuk pengembangan usaha para PKL, pemkot telah memfasilitasi pembentukan koperasi. Saat ini anggotanya sudah ada 312 PKL, dengan modal yang terhimpun sebesar Rp 34 juta.

“Dengan penataan seperti ini, kita juga mengembalikan trotoar pada fungsi semestinya. Mulai sekarang para pedagang di Cihideung ini tidak boleh berjualan di trotoar. Jadi, semua kepentingan terpenuhi. Para PKL tetap bisa berjualan, pejalan kaki pun nyaman menggunakan trotoar,” tutur Budi. initasik.com|shan

Komentari

komentar