Edukasi

Pola Pendidikan Komparatif Efektif Kembangkan Potensi Anak

initasik.com, edukasi | Semua metode pembelajaran memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Namun, bagi guru yang kreatif dan terampil tidak hanya terpaku terhadap satu teori, melainkan disesuaikan dengan kondisi peserta didik.

Salah satunya menggabungkan semua metode pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar atau disebut pola pendidikan komparatif. Hal itu dilakukan Ihsan Farhanudin, guru SDN Citapen, Kota Tasikmalaya, dalam kegiatan belajar mengajar.

Dia mengatakan, seorang anak adalah amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Ibaratnya, ketika kita dipinjami barang yang keadaannya sempurna, maka ketika yang punya meminta, harus dikembalikan sesuai keadaan semula. Begitupun dengan anak,” tandasnya.

Ketika dalam kandungan ia sangat suci, fitrah, maka kewajiban seorang pendidik menjadi pembimbingnya agar anak mampu mengembangkan potensi dalam dirinya sesuai dengan peciptaanya.

“Pola pendidikan manapun seperti pola ceramah, dialog, diskusi, kuis, games maupun yang lainnya sangat baik dan efektif. Asalkan bisa menumbuhkembangkan pemahaman siswa yang luas terbuka. Mampu menyentuh aspek psikologis siswa, sehingga merasa nyaman dan semakin semangat dalam menggali air keilmuan,” ungkap guru bidang Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PABP) itu.

Menurut dia, materi pembelajaran ada empat, yaitu aqidah sebagai akaranya, ibadah atau pengabdian sebagai batang, dakwah atau mencontohkan kebaikan sebagai ranting-ranting, dan akhlak yang mulia sebaga buahnya.

Dengan begitu, untuk menanamkan itu semua salah satu caranya dengan menggunakan pola pendiidkan secara komparatif, yaitu menggabungkan pola ceramah, dialog dan diskusi. “Semuanya itu sebagai satu kesatuan. Adapun apa yang didahulukan tergantung materi yang akan disampaikan dan sewaktu-waktu saya juga suka menambah dengan kuis-kuis yang bersifat spontanitas secara acak, baik itu secara tertulis maupun verbal,” terangnya.

Pola tersebut diyakininya mampu merangsang anak untuk berpikir kritis dan bermental percaya diri dalam menerima informasi materi yang disampaikan. Bagi guru un memudahkan untuk mendata siswa yang belum memiliki rasa percaya diri dan berpikir kritis, yang kemudian menjadi bahan untuk memberikan pendekatan secara khusus kepada siswa tersebut dengan pola dialog.

“Sangat terlihat ada perkembangan pertumbuhan pola pikir dan perubahan terhadap pola sikap seorang anak. Namun besar kecilnya tergantung kesabaran dan kreativitas guru yang disertai dengan kesadaran tawakalnya kepada yang Maha Guru yaitu Alah Subhanahu wa Ta’ala di setiap berlangsungnya proses belajar mengajar,” ujarnya.

Adapun alasan menerapkan pola komparatif dalam kegiatan belajar mengajar, itu semua didasarkan pengajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Quran. Ada yang menggunakan pola dialog, diskusi dialektis, dan ceramah.

“Yang saya rasa dan tahu dari berbagai sejarah, seperti Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam menanamkan nilai-nilai ajaran Islamnya itu dengan metode ceramah, dialog, diksusi, dan kadang-kadang dikomparasikan ketiganya sekaligus. Itu semua yang mendorong saya untuk menerapkan pola tersebut,” pungkasnya. [Syaepul]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?