Peristiwa

Polemik Terjadi Lantaran Kekuatan Bahasa

Kota Tasik | Logika dan bahasa bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi, dan sering menjadi seperti sumber mata air di padang tandus yang diperebutkan beragam hasrat.

Demikian diungkapkan sastrawan muda, Bode Riswandi, dalam diskusi “Logika dan Bahasa dalam Konteks Kekinian” di markas Komisariat HMI Universitas Siliwangi, Kamis, 14 Januari 2016, malam.

“Saya yakin bahwa segala polemik yang terjadi itu muncul dari kekuatan bahasa di masing-masing kelompok. Itu wajar. Tidak bisa disalahkan.  Pertanyaannya, apakah kekuatan bahasa itu kemudian dilandasi dengan argumen-argumen yang kuat? Selama itu iya, silakan. Mau diterima akal sehat atau tidak, juga silakan. Yang kita khawatirkan adalah logika dan bahasa itu dijadikan sebagai medan pertempuran antarkepentingan,” tuturnya.

Dalam ranah persaingan lebih luas, jelas Bode, logika dan bahasa menjadi alat pencitraan, sekaligus alat pembunuh karakter. Siapa mengunggulkan siapa, dan siapa menjelekkan siapa.

“Logika dan bahasa sejatinya menjadi katalisator sebuah kebijakan pemerintahan. Logis bagi saya memakai kekuatan bahasa untuk menyampaikan kritik dan gagasan. Memakai bahasa itu bukan melulu berteriak-teriak, meski sesekali harus berteriak,” tandasnya. initasik.com|yusuf

Komentari

komentar