Syaepul | initasik.com
Pesantren

Pondok Pesantren An-Nuur Jarnauzziyah

initasik.com, pesantren | Sepulangnya mondok dari beberapa pesantren, KH. Aep Saefudin Ahmad, sekitar 1983 mendirikan pondok pesantren An-Nuur Jarnauzziyah. Sebelumnya, sudah ada pengajian yang diselenggarakan orangtuanya, yaitu Ahmad Tajudin dan Onoh Hasanah, tapi hanya sebatas pengajian sehabis Magrib.

“Daerah sini tidak mengenal pesantren, hanya pengajian biasa. Ibu saya suka mengajar anak-anak di musala yang ada di atas kolam. Kalau mau sekolah, jaraknya lumayan jauh. Jaraknya sekitar 2 km dari sini. Itu yang mendorong mendirikan pesantren, ingin mengembangkan ilmu pesantren di daerah sendiri, soalnya mau belajar Islam itu sangat jauh sekali,” tutur KH. Aep Saefudin Ahmad, saat ditemui dirumahnya, di Jl. Dr. Moch. Hatta, Cibogor Hilir, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Ia menceritakan, sekitar 1965 sewaktu adanya kerusuhan PKI, tempat-tempat pengajian menjadi ramai. Tidak terkecuali rumah pribadi orangtuanya, yang awalnya ada beberapa kamar, dibongkar dan dijadikan madrasah, sekaligus rumah tinggal santri.

Dikarenakan banyaknya santri, ada warga yang terketuk hatinya, sehingga meminjamkan bangunan untuk  dijadikan tempat belajar. Dua tahun kemudian, baru mendirikan madrasah.

“Tahun 1975 baru mulai mengenal kitab kuning. Setelahnya melihat keadaan, tidak ada anak yang mau masantren, terus berpikir bagaimana caranya. Solusinya itu, bagaimana caranya di sini harus terbangun pesantren. Tadinya hanya mendorong anak untuk berangkat ke pesantren, tapi karena tidak ada yang mau. Jadi akhirnya berpikir untuk mendirikan pesantren di sini,” terang Suami Hj. Nurhayati dan bapak lima anak ini.

Ia meyakini, kalau ada kolam, pasti bakalan ada ikannya. Begitupun dengan santri, kalau sudah ada pesantren, pasti akan ada santri. Prinsip itu yang menjadi pegangan KH Aep dalam mendirikan pondok pesantren. Keyakinan dan keseriusan dalam menjalankan sesuatu menjadi modal dasar yang harus dimiliki, walaupun keberadaan diri dalam serba keterbatasandan kekurangan. Tidak punya materi, ilmu dan lain-lain.

“Yang penting berdiri dulu pesantren. Tahun 1983 baru membangun pondok pusaka, itupun tidak berani mengatakan ini teh pesantren. Masih majelis ta’lim. Tapi pengajarannya sama persis pesantren. Malu harus mengatakan pesantren mah,” ungkap pria berusia 64 tahun itu.

Ketika memulai, santri kebanyakan dari warga sekitar dan dari luar kampung yang berniat bekerja di daerah tersebut, namun sambil mondok di pesantren. Jumlahnya sekitar 40 orang. Pakaiannya pun bebas, malahan tidak sedikit perempuan yang berpakaian tidak menutup aurat. Sekarang, santri sudah terbina, yang mondok tidak hanya dari wilayah dari Jawa Barat dan sekitarnya.

“Setiap tahun akang suka ngirim santri  ka Kalimantan. Ini juga bisa seperti ini karena doa dari kedua orangtua dan guru-guru akang, dan memiliki semangat serta istiqomah,” tandasnya.

Pondok pesantren ini, berfokus pada sistem pengajaran Salafiyah, yaitu kajian kitab-kitab kuning, seperti kitab kuning, tafsir, ilmu tafsir, hadis, ilmu hadis, fiqih, ushul fiqih, bahasa Arab, nahwu, sharaf, balaghah, arud, akhlaq, tauhid, dan sejarah Islam.

“Luas pesantren ini asalnya sekitar 392 meter, sekarang menjadi 8.400 meter. Ada 15 kamar perempuan dan 20 kamar untuk laki-laki. Alhamdulillah. Akang memberi amanat kepada anak-cucu pesantren model seperti ini harus dipertahankan. Walaupun perkembangan tidak secepat pesantren yang ada sekolahan, selagi bisa dipertahankan kenapa harus mengubah sistem yang sudah terasa manfaatnya,” pungkasnya. [Syaepul]

Pondok Pesantren An-Nuur Jarnauzziyah

Nama Pimpinan: KH. Aep Saefudin Ahmad

Alamat: Jl. Dr. Moch. Hatta, Cibogor Hilir, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya.

Nomor Kontak: 0813-2310-2223

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Komentari

Komentari