Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning
Pesantren

Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning

Negara jin. Begitu orang-orang bilang. Tak seorang pun berani tinggal di sana. Tapi tidak dengan Saepudin Zuhri. Ia malah tinggal di Puncak Haur, Desa Mandalaguna, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya.

Lebih dari lima puluh tahun silam, 18 Agustus 1964, ia mendirikan pesantren di atas bukit. Sulitnya akses jalan tak membuatnya mundur. Tekadnya bulat. Ia yakin dengan petunjuk guru dan hasil istikharahnya. Meskipun tempatnya tidak memberikan kemudahan, ia yakin akan satu hal Allah SWT akan menolongnya. Ia serahkan segalanya kepada Allah SWT. Alhasil, kerja kerasnya berbuah manis. KH. Saepudin Zuhri (rahimahullah) telah membuktikan keyakinannya.

Kini, Puncak Haur bukan lagi negara jin, tapi pusat penyebaran agama Islam. Namanya diubah menjadi Haurkuning. Lengkapnya, Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning. “Penambahan kata Baitul Hikmah setelah Bapa ((KH. Saepudin Zuhri) pulang dari Mekah tahun 1978,” sebut KH. Busyrol Karim Zuhri, putra pertama almarhum yang kini diangkat menjadi pimpinan ponpes.

Ia menyebutkan, saat ini tercatat ada 1.600 orang yang menimba ilmu di tempatnya. Mereka datang dari berbagai pelosok tanah air. Padahal, waktu dulu dirintis, hanya ada lima orang santri. “Kalau Bapa hanya mengandalkan akalnya, pesantren ini tidak akan sebesar sekarang. Jawabannya hanya satu, yaitu keyakinan kepada Allah SWT. Kalau segala sesuatu diserahkan kepada Allah, segalanya akan menjadi kecil. Segalanya gantungkan kepada Allah. Haurkuning tidak mengenal buldoser, tapi bisa sebesar sekarang. Modalnya hanya satu; dekatkan diri kepada Allah SWT,” tutur Kiai Busyrol.

Menurutnya, di periode awal membuka pesantren, banyak santri yang ujug-ujug linglung. Mereka sampai tidak tahu jalan pulang. Tak sedikit santri yang tiba-tiba sakit. Konon, mereka diganggu jin. Malah, gangguannya ada yang terbilang parah.

Cecep Ahmad Muqoddas, santri angkatan 1986 s.d. 1991, mengaku pernah diganggu jin. “Waktu saya mesantren di Haurkuning pernah marah kepada teman. Saya kira dia yang menyembunyikan sarung saya. Eh, ternyata ada di pohon manggu. Sepertinya itu oleh jin, karena tidak mungkin teman saya naik pohon itu,” ujarnya.

Selain itu, sambungnya, saat ada orang yang hendak memindahkan batu sebesar rumah, ia malah sakit. Konon batu itu tegalnya jin. Tapi, pengalaman-pengalaman seperti itu bagi Cecep hanya bumbu. Selama menimba ilmu di pesantren Haurkuning, ia mengaku banyak pelajaran yang dipetik. “Saya sudah mesantren di beberapa tempat, tapi di Haurkuning yang paling bagus. Terasa mesantrennya. Pembinaan mentalna bagus,” tandasnya.

Penilaian serupa diucapkan Asep Ismail, santri angkatan 1994. Menurutnya, pengajaran di pesantren Haurkuning sangat mengena. Cara membinanya bagus. Tidak pandang bulu. Ia bangga bisa belajar ilmu alat, kitab kuning, dan yang lainnya.

Selain pengajaran tradisional, kini Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning telah membuka kelas tsanawiyah dan aliyah. “Pesantren ini dikembangkan untuk mencetak kader-kader muslim. Bukan hanya pintar, tapi harus berakhlak karimah, tekun ibadah, dan mendalam ilmunya,” ujar Kiai Busyrol. initasik.com|ashani

Alamat: Kp. Haurkuning RT 03 RW 01 Desa Mandalaguna Kec. SalopaKab. Tasikmalaya Prov. Jawa Barat
Telepon. 08211560 7722

Komentari

komentar

Komentari

Komentari