pondok pesantren suryalaya
Pesantren

Pondok Pesantren Suryalaya

Pondok Pesantren Suryalaya berdiri sekitar tahun 1883 oleh Syekh Abdullah Mubarok, yang kelak dikenal dengan sebutan Abah Sepuh. Suryalaya berpijak pada ajaran Tarekat Qodiriiyah wa Naqsyabandiyyah (TQN).

Tak banyak orang tahu kalau Pondok Pesantren Suryalaya cikal bakalnya lahir di Tundagan yang saat ini masuk ke wilayah Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya. Sekitar tahun 1883, Syekh Abdullah Mubarok –yang kelak dikenal dengan sebutan Abah Sepuh– mendirikan pesantren yang berpijak pada ajaran Tarekat Qodiriiyah wa Naqsyabandiyyah (TQN).

Murid Syekh Tolhah bin Tolabuddin, Khalifah TQN di Cirebon dan Jawa Barat Bagian Timur pada 1876 s.d. 1935, itu mengamalkan ajaran-ajaran TQN di pesantren Tundagan. Namun, itu tidak bertahan lama. Masyarakat menolak. Beberapa ulama di sekitar Tundagan menilai, TQN yang dipelajari Syekh Mubarok itu menyimpang dari agama Islam dan berbahaya. Keadaan semakin tidak nyaman dengan adanya campur tangan pemerintahan kolonial Belanda.

Syekh Mubarok pun memindahkan pesantrennya ke Kampung Cisero, tempat tinggal orangtuanya, Raden Nur Muhammad, yang bertugas sebagai Upas atau polisi pamong praja di zaman Belanda. Dari Tundagan, Kampung Cisero ini jaraknya sekitar 26 km ke arah Barat. Kampung itu masuk ke dalam wilayah Desa Pagerageung, Kecamatan Tarikolot (sekarang namanya diubah jadi Kecamatan Pagerageung).

Di kampung ini pun ternyata tidak bertahan lama. Gangguan dari masyarakat yang belum memahami Tarekat terbilang besar. Pesantren pun dipindahkan lagi ke Kampung Godebag. Jaraknya sekitar 2,5 km ke arah timur dari Cisero. Tahun 1905 Syekh Mubarok membangun Pesantren Godebag. Ia lantas membangun masjid dan rumah-rumah untuk tempat tinggal keluarga dan santri yang mondok. Atas saran Syekh Tolhah, nama pesantren itu diubah jadi Pesantren Suryalaya.

Rupanya masyarakat masih menolak. Bahkan, saat di Kampung Godebag inilah Syekh Mubarok masuk penjara Tasikmalaya. Ia dituduh mendirikan pesantren tanpa izin bupati, mengganggu dan meresahkan masyarakat sekitar dengan menyebarkan ajaran yang menyimpang dari agama Islam, serta membangkitkan rasa benci dan permusuhan kepada Belanda.

Lantaran kejadian itu, ia sempat mengusulkan kepada Syekh Tolhah untuk berpindah tempat lagi. Namun, permintaan itu ditolak. Syekh Tolhah menyarankan agar Syekh Mubarok bertahan di Godebag. Untuk membesarkan hati muridnya itu, Syekh Tolhah berkunjung ke Godebag, sekitar tahun 1908 atau 1909.

Selama di penjara, Syekh Mubarok banyak mendapat murid. Bahkan, Bupati Tasikmalaya Raden Adipati Prawira Adiningrat, 1907, diam-diam belajar kepadanya. Bupati pun bersedia menjadi pelindung, serta mau melakukan tindakan yang diperlukan terhadap siapapun yang bermaksud mengganggunya. Pesantren Suryalaya pun secara bertahap mulai terhindar dari gangguan dan hambatan.

Nama Syekh Mubarok semakin diperbincangkan. Malah, sekitar tahun 1924, ia mendapat kepercayaan dari bupati Ciamis untuk menjadi penasehat keagamaan. Ia pun berhasil menjalin hubungan dengan bupati lainnya, seperti Bupati Bandung Wiranatakusumah III.

Sekitar tahun 1935, Syekh Tolhah meninggal dunia, dan dikebumikan di kompleks pemakaman Gunungjati, karena beliau masih keturunan Sunan Gunungjati dari garis Pangeran Trumi. Tongkat ke-Khalifahan TQN dipercayakan kepada Syekh Abdullah Mubarok.

Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Syekh Abdullah Mubarok yang menjadi Khalifah TQN kedua di Jawa Barat bagian Timur dan pertama di Tasikmalaya, Allah SWT mengakhiri hidupnya pada usia 120 tahun.

Beliau wafat pada 25 Januari 1956, di rumah H.O. Sobari di jalan Cihideung Tasikmalaya. Sobari adalah salah satu muridnya yang sangat setia. Jenazah Syekh Mubarok dibawa dari Tasikmalaya ke Suryalaya diiringi kendaraan yang sangat banyak. Bupati Tasikmalaya, serta pejabat militer dan sipil turut mengantar hingga ke pemakaman di Suryalaya.

Sebelum wafat, beliau sudah menetapkan penggantinya untuk memimpin Pesantren Suryalaya dan sebagai Khalifah TQN, yaitu salah seorang dari putra-putrinya. Pilihannya jatuh kepada putranya yang keenam, yaitu KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin. Kelak namanya dikenal dengan sebutan Abah Anom.

Sejak pelimpahan tugas dan tanggung jawab untuk memimpin Pesantren Suryalaya, Abah Anom terus membangun berbagai sarana prasarana pertanian. Saluran air irigasi pedesaan yang sebelumnya dibangun Abah Sepuh diperbaiki dan dipelihara. Alhasil, sawah-sawah di sekitar Suryalaya tidak kesulitan air.

Pada tahun 1961, ia mendirikan Yayasan Serba Bakti, disusul pendirian Sekolah Menengah Islam Pertama (1963), Perguruan Tinggi Dakwah Islam (1968), dan Pendidikan Guru Agama (1964). Kemudian didirikan Taman Kanak-kanak, Madrasah Diniyah Awwaliyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Alliyah (1977), dan Sekolah Menengah Atas (1975).

Yayasan Serba Bakti pun mengelola panti rehabilitasi penyalahgunaan narkotika yang diberi nama Inabah. Itu sudah dirintis sejak 1973, namun resmi didirikan pada 1980. Selain itu, didirikan juga Koperasi Khidmat (1973), dan Perguruan Tinggi Islam Latifah Mubarokiyah (1986). Kini sudah ada dua perguruan tinggi di Suryalaya, yaitu Institut Agama Islam dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi. Keduanya menyandang nama Latifah Mubarokiyah.

Pada milad satu abad Pondok Pesantren Suryalaya, KH Shohibul Wafa Tajul Arifin mencetuskan ide bernas. Di kompleks pesantrennya, ia menginginkan didirikan perguruan tinggi berlevel universitas. Ia pun menyodorkan nama ULAMA, akronim dari Universitas Latifah Mubarokiyah. Namun, hingga Abah Anom tutup usia, 5 September 2011, ULAMA belum berdiri. Perjuangan tetap berlanjut. “InsyaAllah segera jadi. Segala persyaratan terus dipenuhi,” ujar pengemban amanah sesepuh Pondok Pesantren Suryalaya, KH. Zaenal Abidin Anwar, Sabtu, 8 November 2014. (sumber: R.H. Unang Sunardjo SH, 1995; Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya | liputan initasik.com)

Alamat: Dusun Godebag RT.01 / RW.02, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Tanjungkerta, Pagerageung, Tasikmalaya, Jawa Barat 46158
Telepon. (0265) 455801

Komentari

komentar

Komentari

Komentari