Dok. initasik.com
Sorot

Potret Buram Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya

initasik.com, sorot | Usia Kabupaten Tasikmalaya sudah ratusan tahun. Berdiri lebih dari 383 tahun. Namun, sampai saat ini kondisi pendidikannya belum sesuai harapan. Potretnya masih buram. Jauh dari ideal. Kekurangan tenaga pendidik telah menjadi cerita klasik. Begitu juga dengan sarana-prasarana. Masih banyak ruang kelas yang rusak.

Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul ulum, mendesak pemerintah pusat, melalui Kemenpan-RB, segera mencabut moratorium penerimaan PNS. Ia mengatakan, Pemkab Tasikmalaya kekurangan ribuan pegawai. Sementara yang sekarang ada banyak yang memasuki masa pensiun.

Jika kondisinya demikian, pelayan prima yang digadang-gadang bisa jadi cuma angan-angan. Untuk bisa melayani masyarakat dalam segala bidang, diperlukan personel yang seimbang. Moratorium pasti bakal menyebabkan pincang.

Ia menyebutkan, masih banyak sekolah yang PNSnya hanya kepala sekolah. Selebihnya tenaga sukwan. Mereka digaji alakadarnya. Mengandalkan BOS. Anggarannya sangat kecil.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, Kundang Sodikin, menyebutkan, untuk SD sampai SMA, kekurangan 8.000 guru. Rinciannya, guru SD 3.000 orang, SMP 2.000 orang, dan sisanya untuk guru SMA.

Di sekolah dasar, kondisinya memprihatinkan. Idealnya, satu sekolah ditunjang sembilan guru. Faktanya, masih banyak yang tidak seperti itu. “Bersyukur masih ada yang mau mengajar. Kami sangat berterima kasih kepada para sukwan. Saya berharap, moratorium pengangkatan guru segera dihapus, dan segera buka kembali penerimaan PNS,” harap Kundang.

Potret buram lainnya adalah sarana-prasarana sekolah. Bangunan dan fasilitas penunjang banyak yang rusak, terutama di lingkungan sekolah dasar. Tahun ini, pihaknya sudah mengajukan permohonan rehabilitasi untuk 38 SMP dan 200 SD. Ia berharap, itu segera direalisasikan.

Terpisah, Ketua Komisi 4 DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Usman Kusmana, mengatakan, pihaknya telah berkunjung ke sekolah-sekolah di pelosok. Diakuinya, banyak sekolah yang mengalami kerusakan sangat parah. Bahkan, bangunan yang awalnya rusak ringan dan sedang karena dibiarkan akhirnya semakin parah.

“Saya berharap agar pemerintah pusat memberikan perhatian secepatnya, sehingga kondisi bangunan bisa segera diperbaiki. Namun ketika ada bangunan yang kerusakannya ringan, saya berharap juga kepada pihak sekolah, masyarakat, dan para orangtua bergotong royong melakukan perbaikan,” tuturnya. [Kus]

Komentari

komentar