Unesih dan saudaranya makan nasi dengan kulit singkong | Nun/initasik.com
Humaniora

Potret Kemiskinan di Kabupaten Tasik; Rumah Panggung 4×6 Meter Dihuni 12 Orang

initasik.com, humaniora | Satu rumah panggung berukuran 4×6 meter di Kampung Pasirpari, Desa Pasirhuni, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, dihuni 12 orang. Mereka terpaksa tidur berdesak-desakan di rumah sekecil itu.

Ada tiga keluarga yang menempati rumah berdinding bilik bolong-bolong itu. Masing-masing kepala keluarga hanya bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu sehari. “Inginnya rumah diperbaiki, tapi uangnya dari mana?” kata salah seorang penghuni rumah, Asep Supriadi.

Ia berharap, pemerintah ataupun pihak lain bersedia membantunya. Untuk saat ini, jangankan membangun rumah, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kerepotan. Bahkan, ibunda Asep, Unesih (63 tahun) terpaksa memasak kulit singkong untuk lauk pendamping nasi. “Tidak punya uang untuk membeli lauk pauk. Ini saja (kulit singkong) dimasak. Bumbunya paling pecin (vetsin) dan garam. Sudah itu saja. Makannya dengan nasi,” ucapnya.

Untuk membantu perekonomian sang anak, Unesih memungut bekas jerami yang butir padinya sudah “digebug” pemilik. Dia mengumpulkan jerami tersebut kemudian menggebug ulang dengan harapan ada butir padi yang belum jatuh saat proses penggebugan pertama. Namanya Ngajabra (proses pemungutan bekas jerami). Berharap masih ada padi yang masih menempel.

Kondisi rumah keluarga Unesih ini diperparah dengan tidak adanya kamar mandi di dalam. Jika ingin buang air kecil, mandi, dan mencuci pakaian, mereka harus pergi ke WC umum tak jauh dari rumah.  “Warga sini tidak punya WC sendiri. Untung ada WC umum yang dibangun SMA dari Jakarta,” kata Unesih.

Dia mengaku harus antre di WC umum pada pagi hari. Itu dikarenakan banyak warga yang memakai kamar mandi tersebut. “Harus pagi-pagi jika ingin mencuci, jam 04.00 harus sudah di sana. Kalau tidak, harus antre. Air juga semakin sedikit jiga makin siang,” kata Unesih.

Salah seorang warga, Jaja (52 tahun) mengatakan, WC umum tersebut digunakan oleh 33 kepala keluarga. Hanya ada satu WC di satu RT. Kamar mandi umum tersebut tidak dilengkapi kloset. Jika ingin buang air besar, mereka harus berjalan 500 meter ke sebuah pancuran.

Jaja mengatakan, warga menginginkan agar WC umum diperbanyak. Tentunya dilengkapi dengan toilet. “Pak Bupati, datanglah ke sini. Lihat kondisi warga sini,” pintanya.

Sekretaris Desa Pasirhuni, Yadi Cahyadi, mengakui banyak warganya yang masuk kategori warga miskin. Jumlahnya sampai 430 orang. Ihwal rumah warga tidak layak huni, ia mengatakan, tiap tahun selalu mengusulkan kepada pemerintah daerah agar diberi bantuan untuk diperbaiki. Namun yang mendapat bantuan tidak banyak.

“Ada 300 rumah tidak layak huni. Sudah diusulkan 280 rumah agar diperbaiki. Tapi belum ada konfirmasi kapan keluar (bantuan),” jelas dia.

Sementara terkait warga yang tidak memiliki kamar mandi, Yadi mengatakan, kampung Pasirpari berada di dataran tinggi, sehingga ketersediaan air sangat minim. Air yang dipakai untuk WC umum di sana berasal dari kampung tetangga. Untuk mengalirkan air ke WC umum itu butuh pipa sepanjang 1,5 km. [Nun]

Komentari

komentar