Peristiwa

Pramuka Harus Jadi Penyejuk Situasi di Tahun Politik

initasik.com, peristiwa | “Gerakan Pramuka merupakan garda terdepan penjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Pendidikan kepramukaan yang berdasarkan pada satya dan dharma pramuka harus benar -benar tertanam dalam diri setiap insan pramuka sebagai pedoman bersikap dan berperilaku.”

Kutipan tersebut merupakan sepenggal dari pidato Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia, Adhyaksa Dault, yang dibacakan Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman, dalam upacara peringatan Hari Pramuka ke-57, di halaman Bale Kota Tasikmalaya, Sabtu, 25 Agustus 2018.

Sejak dulu, dikukuhkannya gerakan pramuka oleh Bung Karno pada tahun 1965 bertujuan untuk mendidik karakter bangsa. Maka dari itu, tupoksi dari gerakan Pramuka saat ini harus tetap fokus mendidik dan membangun karakter bangsa dengan baik untuk menjaga kesatuan dan persatuan NKRI.

“Lebih lagi saat ini merupakan tahun politik, tentunya akan panas situasinya. Saya harap gerakan Pramuka menjadi penyejuk situasi. Jangan sampai terlibat dalam hiruk-pikuk perpolitikan, meskipun sebagai warga negara, masing-masing punya hak politik,” tegasnya.

Ia menginstruksikan kepada seluruh jajaran Pramuka agar merapatkan barisan untuk bekerja sama secara sinergis guna mempercepat mewujudkan kaum muda Indonesia yang berkepribadian luhur, berkarakter, andal dalam berpikir dan bertindak, memiliki jiwa bela negara, serta terampil dalam berbagai kecakapan sebagai bekal hidup kelak.

Menurutnya, Pramuka mesti bisa memanfaatkan bonus demografi yang akan diperoleh oleh NKRI di tahun 2030 mendatang dengan cara mencetak karakter-karakter anak bangsa agar lebih baik. Jika tidak, hal itu malah akan menjadi bencana yang sangat besar.

“Sebagian besar adik-adik kita merupakan generasi siber yang selalu update status dan mengabarkan kondisi secara real time dalam media sosial. Pramuka baru harus lebih keren, berjiwa muda, asyik, dan menyenangkan. Ini menjadi tantangan bagi para pembina Pramuka yang harus selalu kreatif dalam membina peserta didik,” paparnya. [Eri]