Peristiwa

Prof. Ali Musthafa: Lembaga Keuangan Konvensional Haram

Kota Tasik | Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya’qub, mengajak umat Islam untuk bermuamalah sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Jika tidak, selain akan rugi di dunia, di akhirat kelak akan masuk neraka.

“Syarat mutlak masuk surga adalah mengikuti ajaran yang dibawa Rasul dalam hal akidah, ibadah, dan muamalah,” terangnya dalam Ceramah Ekonomi Syariah “Meneladani Perilaku Ekonomi Rasulullah SAW” yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan bekerjasama dengan Asosiasi Bank Syariah Indonesia dan Masyarakat Ekonomi Syariah Tasikmalaya, di Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Rabu, 13 Januari 2016.

Menurutnya, muamalah, salah satunya transaksi ekonomi, menjadi haram ketika di dalamnya ada satu atau lebih dari tujuh unsur, yaitu riba, suap-menyuap, judi, penipuan, zalim, barang haram, dan maksiat. “Ekonomi yang dibangun Rasul tidak mengandung satupun dari tujuh unsur itu,” tandasnya.

Ia lantas menyebut bank konvensional yang masih menerapkan bunga. Merujuk pada fatwa MUI nomor 2 tahun 2004, bunga hukumnya haram, karena telah memenuhi unsur-unsur riba. Transaksi apapun, baik di perbankan, pegadaian, atau asuransi, jika ada ribanya dilarang.

“Ada yang bilang, bank syariah dan bank konvensional sama saja. Hanya beda istilah. Padahal tidak sama. Dalam bank syariah tidak ada bunga, tapi bagi hasil. Bunga itu kelebihan yang timbul akibat penundaan dalam pembayaran. Kredit, misalnya. Kita pinjam Rp 1.000.000, lalu bulan depan harus dibayar Rp 1.100.000, nah yang Rp 100.000-nya adalah riba,” tuturnya.

Prof mencontohkan, seseorang datang ke lembaga keuangan konvensional ingin membeli mobil seharga Rp 200 juta. Dia kemudian dipinjami uang, dan harus mencicil selama lima tahun. Total yang dibayar jadinya Rp 300 juta, sehingga ada pembengkakan Rp 100 juta. Itu riba.

Di lembaga keuangan syariah beda. Mobil seharga Rp 200 juta itu dibeli dulu sama lembaga keuangan tersebut, kemudian dijual kepada konsumen, dan dicicil selama lima tahun, sehingga terakumulasi menjadi Rp 300 juta.

“Kelihatannya sama, ya? Padahal beda. Akadnya berbeda. Yang pertama akadnya pinjaman atau kredit, yang kedua akadnya jual-beli. Beda akad jadi beda hukum. Allah SWT telah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba,” paparnya. “Mereka yang memakan riba, doa dan ibadahnya akan ditolak, sehingga masuk neraka.” initasik.com|shan

Komentari

komentar