Ekbis

Prospek Bagus Bisnis Ikan Koi, Semula Hobi Kini Jadi Lahan Usaha

initasik.com, ekbis | Koi merupakan salah satu jenis ikan hias yang banyak digemari. Ikan yang berasal dari Jepang ini memiliki corak warna yang unik. Keindahan warna menjadi salah satu alasan ikan koi banyak dipelihara.

Ada beragam jenis ikan koi, di antaranya koi Kohaku (koi dengan warna merah dan putih), Taisho Sanke (kombinasi warna merah, putih, dan hitam), Tancho (memiliki titik merah dikepalanya), dan masih banyak lagi.

Di Kabupaten Tasikmalaya ada beberapa peternak ikan koi yang masih aktif, seperti di Kampung Pirusa, Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaratu. Mereka tergabung dalam paguyuban bernama Talaga Koi Farm.

Kini, paguyuban yang berdiri sejak 2009 itu telah memiliki sekitar 20 anggota peternak koi. Salah satunya Muhtar (50). Malah ia sudah beternak koi sejak 2004. Awalnya hobi memelihara ikan hias. Melihat prospeknya yang menggiurkan, lantas ia pun mencoba terjun sebagai peternak ikan koi.

“Saat itu saya pertama beli tujuh paket. Dalam satu paket ada 1 betina dan 2 jantan. Modalnya dulu sekitar Rp 50 juta, termasuk untuk membangun perlengkapan ternak koi,” jelas Muhtar.

Menurutnya, dalam membudidayakan koi ini tidak terlalu sulit. Diperlukan pengetahuan tentang koi yang lebih dalam untuk menjaga kualitas indukan dan anakan koi nantinya. Koi siap dipijah pada umur empat bulan. Sedangkan untuk bobot ikan koi ukuran dewasa bisa mencapai 4 sampai 5 kilogram.

Untuk anakan koi berukuran sekitar 10 cm yang berkualitas biasa, ia jual Rp 10 ribu. Untuk kualitas istimewa harganya Rp 50 ribu sampai Rp 70ribu. “Kualitas koi dilihat dari warnanya. Harus rapi atau simetris, dan kecerahannya juga harus baik. Khusus jenis koi Kohaku biasanya harus memiliki 3 sampai 4 step dan harus memiliki Hi (tompel merah) di atas kepalanya,” terangnya.

Sampai saat ini, Muhtar memiliki pelanggan setia yang selalu datang untuk membeli koinya. Mereka berasal dari kalangan penjual ikan hias, pehobi koi, bahkan pejabat mulai dari Ciamis, Tasik, Garut, Malangbong, sampai Majalengka.

Dalam sebulan, biasanya ia mendapatkan omzet sekitar Rp 5 juta sampai Rp 7 juta. “Ini hobi yang menghasilkan uang,” ujarnya semringah. [Eri]