Ekbis

Prospek Bagus Budi Daya Udang Galah


initasik.com, ekbis | Endang Firdaus, warga Kampung Sukahideung, Desa/Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, memulai beternak udang sejak 1996. Kini, tanah seluas kurang lebih dua hektar, dimanfaatkannya untuk rumah, kolam udang, dan rumah makan.

Pria lulusan Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran itu menceritakan, awalnya ia berternak dengan sistem maklun. Artinya beternak udang milik orang lain di kolamnya. Segala kebutuhan pakan dan perawatan ditanggung oleh pemilik udang. Endang hanya memelihara dan menyediakan kolam untuk diternaki udang.

Namun, dirasa penghasilannya jauh dari yang dibayangkan, ia berhenti memaklun dan memilih membuka peternakan sendiri. “Saat itu saya modal pertama membeli bendur (istilah benih udang) Rp 450 ribu. Dapat 10 ribu ekor udang galah,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Dengan modal Rp 450 ribu ditambah kolam seluas 1.400 m2 ia memulai usahanya. Seiring berjalannya waktu, usaha Endang kian meningkat. Melihat prospek usahanya yang bagus, warga sekitarpun banyak yang tergiur dengan usaha udang.

Melihat antusiasme warga sekitar yang ingin membuka usaha udang galah, Endang tidak keberatan untuk berbagi ilmu dan tidak merasa tersaingi ketika ada warga yang ingin membuka usaha udang galah.

Malah, menurutnya, ia senang jika bisa berbagi ilmu yang bisa membuat perekonomian warga sekitar meningkat. Lantas, para warga yang ikut mengikuti jejak Endang inipun tergabung dalam satu kelompok Pembudidaya Udang Galah Biotirta yang didirikan pada 2006 lalu.

Kini kelompok Pembudidaya Udang Galah Biotirta memiliki sekitar 20 anggota dan diketuai oleh Endang. “Dulu pernah sampai 60 anggota, cuma karena beberapa faktor, yang tersisa tinggal 20 orang,” sebutnya. Ia menjelaskan, faktor penyusutan anggota disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari kurangnya keandalan petani, sampai kurangnya ketekunan yang dimiliki oleh petani udang.

Soal harga, kini perkilogram udang galah mencapai Rp 70 ribu, sehingga termasuk komoditi udang paling mahal. Untuk masalah perawatan, Endang menyebutkan, rutinitas setiap hari hanya pemberian pakan. Kemudian, setiap 3 sampai 4 bulan sekali melakukan pemindahan udang pada kolam pembesaran. Ketika sudah berumur sekitar tujuh bulanan, barulah siap dikonsumsi.

Endang biasanya mengirim udang-udangnya ke beberapa rumah makan yang berada di Bandung, Jakarta, Sleman, dan Depok. Sedangkan untuk benih, Endang biasanya membeli bendur dari Banjar atau Pelabuhan Ratu.

Kini, selain membuka ternak udang, Endangpun membuka rumah makan dengan olahan udang dan ikan. Rumah makannya itu berdiri pada tahun 2010 dan dinamakan saung Biotirta. “Ah, ini mah tambah kesel saja. Untuk menambah penghasilan,” katanya semringah. [Eri]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?