Peristiwa

Puluhan Bangunan di Bekas Terminal Cilembang Diratakan

initasik.com, peristiwa | Puluhan bangunan di bekas Terminal Cilembang yang berada di wilayah Kota Tasikmalaya dibongkar, Rabu, 27 Desember 2017. Dari sekitar 203 kios, baru 96 bangunan yang diratakan.

Kabid Aset Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Cecep Rostata, mengatakan, pembongkaran itu dilakukan setelah berembug dengan berbagai pihak.

“Sejak setahun lalu Kecamatan Mangkubumi mengajukan kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk membongkar terminal karena di sini marak perdagangan minuman keras,” ujarnya sebelum pembongkaran.

Menurutnya, bangunan lain, seperti Sekretariat Pemuda Pancasila Kabupaten Tasikmalaya, akan dibongkar pada tahap kedua yang waktunya belum ditentukan. Sementara Yayasan Mentari Hati akan dikoordinasikan dulu antara tiga pemerintahan, yaitu Pemkab Tasikmalaya, Pemkot Kota, dan Pemprov Jabar.

“Kalau kantor yang digunakan Satpol PP Kota Tasikmalaya statusnya pinjam pakai. Sedangkan yang lainnya tidak berizin. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya tidak pernah mengeluarkan izin apapun terhadap pemakaian tempat di sini,” tuturnya.

Sementara itu, Tatang Sutarman, ketua Garuda Pusaka Nusantara (Gapura) yang sekretariatnya turut dibongkar, mempertanyakan alasan pembongkaran yang dikaitkan dengan maraknya perdagangan minuman keras.

“Kalau memang dasarnya kemaksiatan, kenapa yang lain tidak dilakukan hal yang sama? Kami terima pengusiran ini, tapi pemerintah seyogyanya melakukan sosialisasi dulu kepada masyarakat, berdialog untuk memberi pengertian. Kami sangat kecewa dengan keputusan sepihak dari pemerintah, seolah-olah pembongkaran ini darurat,” paparnya.

Ia mengatakan, masyarakat butuh waktu untuk mencari kontrakan baru. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan tetap. “Seyogyanya mereka diperlakukan sebagai masyarakat yang memiliki hak. Kewajiban pemerintah untuk mengayomi dan melindungi masyarakat,” tandasnya.

Supini, warga yang sudah tujuh tahun tinggal di bekas Terminal Cilembang, mengaku tidak tahu akan pindah ke mana. “Suami saya sudah meninggal dunia. Saya tinggal di sini bersama cucu. Anak-anak tinggalnya jauh-jauh,” ujar perempuan berusia 71 tahun itu. [Jay]