Ekbis

Puluhan Tahun Jadi Fotografer, Cepi Enggan Buka Studio Foto

initasik.com, ekbis | Kendati sudah puluhan tahun menjalani usaha di bidang fotografi, Cepi enggan membuka studio foto. Padahal, warga Lio, Desa Cintajaya, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, itu mengaku sudah jadi fotografer sejak duduk di bangku SMA. Kini usianya sudah 68 tahun.

Saat berbincang dengan initasik.com di acara wisudaan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tasikmalaya, di Hall Aulia Center, Jl. Letnan Harun, Kota Tasikmalaya, Selasa, 26 September 2017, ia bercerita seputar sepak terjangnya di bisnis cupret-cepret itu.

Awalnya ia mengikuti orangtua yang bergelut di usaha itu di Jakarta. Perantau. Waktu masih SMA, ia sering membantu pekerjaan ayahnya. Tak heran, biaya sekolahnya ia penuhi sendiri. Punya uang dari bantu-bantu.

“Dulu mah belum banyak saingan. Bukan kita yang cari-cari tempat acara, tapi mereka yang undang kita. Sekarang mah beda lagi. Saingan dari mana-mana. Dalam satu acara bisa puluhan tim yang terjun di jasa foto,” tuturnya.

Lantaran dulu belum banyak saingan, bukan hanya orang biasa yang pernah diabadikannya dalam kertas foto. Para pejabat dan artis juga sering jadi bidikannya. Ia lantas memerlihatkan foto dirinya yang masih muda difoto bareng Diana Pungky. Bahkan ia pernah jadi wartawan foto di salah satu majalah di Jakarta.

Kendati sudah punya pengalaman dalam dunia fotografi, sama sekali ia tak pernah ingin membuka usaha studio foto. Salah satu alasannya karena tak terbiasa kerja hanya diam menunggu orang datang. Sebaliknya, ia yang mendatangi orang-orang.

Sampai sekarang masih begitu. Mendatangi acara demi acara. Bukan hanya wisudaan, yang manasikan atau lomba mewarnai juga jadi kejarannya. “Beginilah kalau orang lapangan. Kita enjoy saja,” akunya.

Dalam wisudaan STAI Tasikmalaya itu, Cepi terjun bersama tujuh orang pegawainya. Tugasnya beda-beda. Ada yang bagian memotret, menawarkan jasa, dan ia sendiri di bagian cetak.

“Kalau yang ukuran A3 harganya Rp 75.000 sampai Rp 100.000. Kalau A4 Rp 25.000. Tapi karena banyak saingan, harganya saling banting. Persaingan edan. Di sini saja mungkin ada 15 atau 20 grup. Setiap ada laptop dan printer, itu tim yang berbeda. Tapi kita saling kenal juga,” paparnya.

Ia mengungkapkan, di atara pesaingnya itu ada yang bekas anak buahnya. Sudah ada sekitar enam orang pekerjanya yang kemudian membuka usaha serupa. “Alhamdulillah, selain membuka lapangan kerja, juga menciptakan bos-bos baru,” ujarnya tertawa. [Jay]

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?