Jay | initasik.com
Edukasi

Pupuk Kimia Hanya 50 Persen yang Terserap Tanaman

initasik.com, edukasi | Dekan Fakultas Pertanian Universitas Siliwang, Dr. Ida Hodiyah, mengajak masyarakat tani untuk tidak ketergantungan pada pupuk berbahan kimia. Selain tidak baik bagi tanah dan kualitas tanaman, dari sisi ekonomi juga merugikan.

Menurutnya, dari pupuk kimia yang disebar atau disemprotkan, hanya 50 persen yang terserap tanaman. Sisanya menguap atau terbawa oleh air. “Berarti, 50 persen uang petani untuk itu terbuang percuma,” katanya usai menghadiri Agroteknologi Kingdom yang digelar Himpunan Mahasiswa Agroteknologi Unsil, di Gedung Mandala, Kamis, 11 Mei 2017.

Dampak bagi kesehatan pun tak kecil. Pupuk kimia banyak mengandung logam berat. Itu pasti terhirup oleh petani atau masuk ke sumur yang dijadikan sumber minum. Sangat membahayakan. Pestisida kimia yang konsentrasinya terlalu tinggi akan menyebabkan hasil tanaman yang mengandung residu dan menjadi benih penyakit. Lama-lama terakumulasi, sehingga mengganggu metabolisme sel dalam tubuh. Timbul kanker, ginjal dan lain-lain.

Lantaran terlalu jor-joran pupuk kimia, tanah pun menjadi keras. Itu menyebabkan tanah jadi susah diolah. Kualitasnya jelek. “Pertanian organik itu bisa menggunakan sumber daya yang ada di sekitar. Bisa berasal dari limbah tanaman atau limbah ternak. Tentu dibutuhkan kreativitas dari petani. Jangan mau gampangnya saja. Pupuk kimia memang memudahkan. Tinggal sebar. Tapi dampaknya tidak baik,” tuturnya.

Ia mencontohkan, kipait, kirinyuh, daun suren, daun sirsak dan sebagainya bisa dijadikan bahan dasar untuk membuat pestisida nabati. Bila itu dibiasakan, hasilnya bakal berlipat-lipat. Lingkungan dan tubuh tetap sehat, keuntungan pun lebih banyak.

“Tanaman-tanaman organik harga di pasaran lebih mahal dibanding dengan yang biasa. Misalnya beras organik yang harga ekspornya berlipat-lipat dibanding beras biasa. Di pasar domestik pun harganya lebih mahal,” sebut Ida. [Jay]

Komentari

komentar