Peristiwa

Pusat Kerajinan Rajapolah Makin Tak Bertuah

initasik.com, peristiwa | Nasib para pelaku usaha di sentra kerajian Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, kian terpuruk. Penjualan dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Pendapatan anjlok hingga 30 persen.

Nanang Sutarman, salah seorang pemilik toko kerajinan sekaligus jepala Unit Pelayanan Pemasaran Kerajinan Rajapolah (UPPK), mengatakan, omzet terus menurun sampai 30 persen dari tahun ke tahun.

Di saat libur lebaran, misalnya, ia mengaku penghasilannya bisa menutup kekurangan di bulan-bulan sebelumnya yang selalu sepi. Tahun ini tidak lagi begitu. Omzetnya tidak sampai Rp 100 juta, beda dengan tahun-tahun lalu.

Menurutnya, ada banyak faktor yang mempengaruhi lesunya penjualan di sentra kerajinan. Fluktuasi nilai rupiah ke dolar juga memengaruhi. Bahan baku naik, bahkan sampai dua kali lipat. Misalnya harga pemutih pandan. Biasanya, ia membeli barang tersebut seharga Rp 10 ribu, tapi kini sampai Rp 20 ribu.

Hal lain yang juga berdampak pada penjualan di sentra kerajinan Rajapolah adalah putusnya orderan dari perusahaan-perusahaan ke pengrajin besar untuk keperluan ekspor “Sekarang, perusahaan-perusahaan itu sudah tidak order lagi. Otomatis, pabrik (pengrajin) bangkrut. Selama tahun 2017-2018 saja sudah tiga pabrik yang gulung tikar. Akibatnya, para pekerja pabrik kini memilih membuka usaha sendiri dengan menjatuhkan harga. Di situlah persaingan penjualan lokal kita semakin ketat,” bebernya kepada initasik.com, Sabtu, 30 Juni 2018.

Iwan Kustiawan, pelaku usaha lainnya, menuturkan hal serupa. Ia mengaku, tahun ini omzetnya menurun drastis sampai 50 persen, termasuk saat libur lebaran kemarin. Para pemudik-balik yang biasa singgah sambil menunggu kemacetan arus mudik berkurang, di tahun ini tak lagi ia rasakan.

“Sekarang memang banyak jalur yang bisa dipakai untuk arus mudik-balik, sehingga kendaraan tidak terkonsentrasi pada satu jalur. Itu berdampak pada penjualan. Saya alami itu. Libur lebaran kemarin penjualan turun drastis,” paparnya. [Eri]