Lina Ruzhanul Ulum | Dok. initasik.com
Keluarga

Putri Bupati Juga tidak Dibekali Ponsel Pintar

initasik.com, keluarga | Telepon seluler (ponsel) seakan sudah tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Di manapun dan ke manapun selalu dibawa. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga sama.

Tak jarang, mereka yang masih berusia sekolah dasar lebih mahir memainkan ponsel pintar ketimbang orangtuanya. Sama dengan pisau, ponsel bisa memberikan manfaat positif, tapi juga mengandung kengerian di baliknya.

Lina Ruzhanul Ulum, istri bupati Tasikmalaya, dalam satu kesempatan bercerita pengalamannya terkait ponsel. Ia mengaku pernah dibuat kaget saat mengecek ponsel anaknya yang waktu itu masih kelas dua sekolah dasar.

“Dulu, anak saya memang diberi hape. Malah punya akun Facebook segala. Entah siapa yang membuatkannya. Suatu waktu saya mengecek hape dia. Ternyata ada pesan di dalamnya dari lelaki yang merayu-rayu dia, bilang cantik, dan mengajak ketemuan. Saya kaget. Sejak saat itu hapenya saya ambil,” tutur Lina.

Berkaca dari kejadian itu, ia memutuskan untuk tidak dulu memberi ponsel pintar kepada anak-anaknya. Sebagai seorang ibu, ia sadar atas kewajibannya menjaga buah hati, lahir dan batinnya.

“Harusnya setiap keluarga tidak memberikan anaknya gadget canggih kepada anaknya. Saya pernah lihat tayangan di televisi, penemu Apple tidak memberikan hape kepada anaknya. Dia yang membuat hape canggih saja tidak memberikan hape kepada anaknya. Kita jadi berpikir, pembuatnya saja begitu, dia pasti tahu banget dampak negatif hape terhadap anak kecil,” papar Lina.

Ia menyebutkan, anaknya kini sudah 12 tahun. Sejak kejadian itu sampai sekarang tidak diberi ponsel pintar. Awalnya anaknya itu selalu merengek, tapi keputusannya tak berubah. Lina bergeming. Ia tetap tak mau memberikan ponsel pintar kepada putrinya.

“Melihat dia menangis, sebagai ibu tentu terenyuh. Tapi saya keukeuh. Bismillah. Laa haula. Ini untuk kebaikannya juga. Dia sudah beranjak remaja. Kita harus memproteksinya dengan benar. Saya tidak mau anak saya jadi korban teknologi yang disebabkan keteledoran orangtuanya,” tandas Lina.

Menurutnya, setiap kali kunjungan ke daerah-daerah, ia selalu mengingatkan ibu-ibu untuk tidak mudah memberikan ponsel yang terkoneksi ke internet kepada anak-anaknya. Jangan mentang-mentang punya uang, lantas mudah saja memberikan anak ponsel. Kalaupun tujuannya butuh untuk komunikasi saat mereka berada di luar rumah, bisa memilih telepon biasa. Cukup untuk telepon atau kirim pesan singkat. [Jay]

Komentari

komentar