R. Ikik Wiradikarta | Dok. Soekapoera Institute
Sosok

R. Ikik Wiradikarta dan Perannya dalam Membesarkan Muhammadiyah Tasikmalaya

initasik.com, sosok | Tidak banyak yang tahu siapa R. Ikik Wiradikarta. Kebanyakan, tahunya itu nama jalan, dekat Masjid Agung Kota Tasikmalaya. Itupun lebih dikenal dengan sebutan Kalektoran.

Padahal, di masanya, Ikik termasuk orang berpengaruh. Dia adalah redaktur koran Tawekal dan Balaka. Keduanya koran berbahasa Sunda. Sebagai pegiat pers, Ikik berperan dalam membesarkan Muhammadiyah Tasikmalaya di awal pembentukannya. Ia sangat aktif memberitakan perkembangan Muhammadiyah Tasikmalaya melalui korannya.

Dalam jurnal “Sejarah Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya” yang disusun Soekapoera Institute, ditulis, pada salah satu beritanya Ikik menyampaikan motto Muhammadiyah Tasikmalaya saat itu, yaitu “sedikit bitjara, banjak bekerdja”.

Sejak didirikan pada 1912 di Yogyakarta, organisasi bentukan K.H. Ahmad Dahlan itu gerakannya belum meluas. Masih terbatas di kota Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan pun masih seputar pengajian-pengajian dengan materi keagamaan dan keorganisasian.

Pada 1921, Muhammadiyah mulai meluas hingga ke Surabaya, Serandakan, Imogori, Blora, Kepanjen, Solo, Purwokerto, Pekalongan, Pekajangan, Banyuwangi, hingga Jakarta. Bahkan, pada 1922, Muhammadiyah telah memiliki cabang di Garut.

Muhammadiyah Tasikmalaya terbentuk setelah hampir 14 tahun berdiri di Garut. Dalam sejarahnya, perkembangan organ Muhammadiyah Tasikmalaya tidak terlepas dari peran pengurus Muhammadiyah Cabang Garut.

Pengurus Cabang Muhammadiyah Garut menerima surat dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, yang memberitahukan bahwa di Tasikmalaya ada orang yang mengharapkan kedatangan dakwah Muhammadiyah bernama Hidajat dari Citapen.

Menindaklanjuti surat itu, Ketua Cabang Muhammadiyah Garut Moh. Fadjri sengaja berkunjung ke Tasikmalaya untuk menemui Hidayat. Pertemuan pertama Moh. Fadjri dengan Hidayat tidak membuahkan kesepakatan untuk membentuk Muhammadiyah Cabang Tasikmalaya.

Hal tersebut dikarenakan Hidayat sendiri belum memiliki kawan yang bisa diajak untuk mendirikan organisasi itu. Tidak lama kemudian, Sutama, anggota Muhammadiyah Garut, dipindahtugaskan mengajar di Ambachschool Tasikmalaya.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Moh. Fadjri untuk menugaskan Sutama merintis pendirian Muhammadiyah di Tasikmalaya. Amanat besar itu dijalankan Sutama. Dalam waktu singkat berhasil mengumpulkan beberapa orang yang menjadi pelopor Muhammadiyah di Tasikmalaya.

Pertemuan penting diadakan di rumah Sutama, tepatnya di Jl. Empang dan dihadiri oleh Moh. Fadjri serta I. Somawidjaja dari Garut. Pada malam itu terbentuklah bakal kepengurusan Muhammadiyah Cabang Tasikmalaya.

Kepengurusan Muhammadiyah Cabang Tasikmalaya secara resmi dilantik oleh K.H. Sudja dari Pimpinan Pusat pada pertengahan 1936. Gerakan pertama Muhammadiyah Tasikmalaya saat itu adalah mendirikan masjid yang terletak di kampung Pabrik dekat rumahnya Idris. Selain itu, mendirikan sekolah bertempat di Jalan Stasiun yang disebut dengan HIS.

Muhammadiyah dengan cepat mendapatkan dukungan dari para guru, pegawai, dan pengusaha yang hampir semuanya adalah warga kota. Pada tahun pertama berdirinya tahun 1936, Muhammadiyah sudah berhasil mendirikan sebuah HIS dan schalkelschool yang sementara menumpang di rumah seorang anggota yang juga pegawai jawatan kereta api.

Dua tahun kemudian dibangun sebuah gedung permanen untuk HIS di belakang Masjid Agung, sementara untuk schalkelschool dibangun gedung baru di Gudang Jero. Selain HIS, Muhammadiyah Cabang Tasikmalaya pun waktu itu sudah memiliki Schakelschool dan Bustanul Athfal. Namun, pada masa pendudukan Jepang semua sekolah terpaksa ditutup.

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah Tasikmalaya disokong oleh R. Ikik Wiradikarta, pegiat pers. Kalangan media ikut menyokong dakwah Muhammadiyah di Tasikmalaya. Pada 1937, Ikik Wiradikarta melalui koran bahasa Sunda Tawekal no. 89 tahun 1937, memaparkan tujuan organ Muhammadiyah sebagai organ Islam terbesar di Indonesia.

Dalam koran tersebut dijelaskan, Muhammadiyah bertujuan untuk memajukan rakyat dengan jalan mendirikan dan memelihara atau membantu sekolah-sekolah yang mengajarkan agama Islam, mengadakan perkumpulan untuk anggotanya atau siapapun yang mempunyai kemauan, yang di dalamnya membahas berbagai perkara agama Islam, serta mendirikan dan melestarikan tempat salat yang dipakai untuk menjalankan perintah agama untuk khalayak.

Selain itu, menerbitkan dan membantu terbitnya kitab-kitab, buletin-buletin, kitab khutbah, surat kabar, yang semuanya mengandung berbagai perkara ilmi agama Islam, ilmu fiqih dan keyakinan Islam, juga menolong kesengsaraan, memelihara orang miskin, dan anak-anak yatim yang terlantar, serta memberikan pendidikan kepada anak-anak dan remaja agar menjadi orang yang berguna.

Perkembangan Muhammadiyah Tasikmalaya pun tidak lepas dari dukungan para pengusaha. Hubungan antara organ Muhammadiyah dengan para pengusaha tampak paling jelas apabila dibandingkan dengan organ Islam lainnya.

Para pengusaha batik, misalnya, merasa lebih dekat dengan Muhammadiyah ketimbang organ lain. Karena memang mekanisme organisasi dan gaya kepemimpinan Muhammadiyah lebih memberikan ruang terbuka bagi partisipasi langsung para pengusaha.

Selain di bidang pendidikan, Muhammadiyah aktif melakukan kegiatan sosial di kota Tasikmalaya. Muhammadiyah Tasikmalaya mendirikan sebuah kepanitiaan bernama Penoeloeng Kesengsaraan Oemoem (P.K.O) yang aktif mengadakan aktifitas sosial pada hari-hari besar Islam, seperti mengadakan pembagian daging kurban untuk fakir miskin.

P.K.O. Muhammadiyah juga berhasil mendirikan roemah pijatoe yang diperuntukan untuk menampung anak-anak yatim piatu.

Sejak awal perkembangannya, Muhammadiyah Tasikmalaya banyak dibantu oleh ketelatenan dan kesungguhan para pendakwah Muhammadiyah dari cabang Garut. Bahkan, untuk membantu pengembangan Muhammadiyah di Tasikmalaya, Muhammadiyah Garut menugaskan

A.S. Bandy agar menetap di Tasikmalaya untuk menjadi mubalig sekaligus guru tetap di sekolah-sekolah yang didirikan Muhammadiyah Tasikmalaya. Muhammadiyah di Tasikmalaya menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Bahkan sempat merintis pendirian bakal cabang di Ciamis dan Singaparna. ***

Koreksi nama; Di judul dan dalam berita ditulis R. Ikik Wiradikara. Seharusnya R. Ikik Wiradikarta. Kesalahan telah diperbaiki. Mohon maaf. Hatur nuhun

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?