Menara Eiffel di Alun-alun Tasikmalaya, 1898 | Dok. Soekapoera Institute
Historia

RAA Wiratanoeningrat Berhasil Antarkan Rakyat Sukapura Memasuki Peradaban Modern


Oleh: Muhajir Salam, peneliti Soekapoera Institute

initasik.com, historia | Memasuki abad ke-20, tepatnya mulai 1870, Kabupaten Sukapura memasuki era liberal kolonialisme yang ditandai dengan perkembangan industri perkebunan milik pengusaha swasta berkebangsaan Eropa.

Untuk kepentingan eksploitasi ekonomi, pemerintah kolonial membangun jalur kereta api trans jawa yang menghubungkan Batavia-Bandung-Tasikmalaya-Jogja-Surabaya. Pengerjaannya selesai pada 1 November 1894.

Mengingat posisi strategis Tasikmalaya, maka pada 1 Oktober 1901, pemerintah kolonial memindahkan ibu kota kabupaten Sukapura dari Manonjaya ke kota Tasikmalaya. Ketika itu pemerintahan Sukapura dipimpin oleh Raden Adipati Aria Prawirahadiningrat.

Pada 1913, Pemerintah Hindia-Belanda mengukuhkan Tasikmalaya menjadi nama kabupaten, menggantikan nama Sukapura. Perubahan nama Kabupaten Sukapura ini terjadi semasa pemerintahan Raden Adipati Aria Wiratanoeningrat.

Bupati Wiratanoeningrat yang memerintah dari 1908 s.d. 1937 menandai abad ketiga era kejayaan Sukapura. Beliau berhasil mengantarkan rakyat Sukapura memasuki era peradaban modern.

Sejak 1908, Bupati Wiratanoeningrat sukses membangun fondasi insfrastruktur kota Tasikmalaya, ditandai dengan berdirinya pendopo, alun-alun, kantor pemerintahan, lapangan pacuan kuda Dadaha, sekolah-sekolah rakyat, perbaikan masjid Agung, taman-taman kota, gedung bioskop, gedung teater, pasar gede, jalan-jalan yang lebar di pusat perkotaan dan pelosok pedesaan, destinasi wisata, jalur angkutan massal trem dan kereta api yang melintasi pusat kota dan menghubungkan Singaparna, gedung perbankan, rumah sakit, jalur-jalur bus angkutan umum, sarana penerangan listrik, jalur telepon dan telegram, fasilitas air minum, dan pusat-pusat pertokoan.

Baca juga: Jasa Raden Anggadipa di Abad Pertama Era Kejayaan Sukapura

Bupati Wiratanoeningrat sukses mendorong proteksi dan kemajuan ekonomi rakyat. Mulai 1917, beliau berhasil mempelopori berdirinya perhimpunan koperasi untuk pengusaha batik, tenun, payung, anyaman, pertanian, perikanan, dan peternakan. Tak heran, perhimpunan-perhimpunan ekonomi koperasi tumbuh subur di tengah rakyat Tasikmalaya.

Sejak 1920 Bupati Wiratanoeningrat berperan penting terhadap kemajuan bidang pendidikan bagi masyarakat Tasikmalaya. Beliau aktif menyokong berdirinya sekolah-sekolah pribumi modern yang didirikan oleh kaum pergerakan. Salah satunya adalah pendirian sekolah modern yang digagas oleh Paguyuban Pasundan Tasikmalaya di bawah pimpinan Raden Ahmad Atmaja.

Baca juga: Sikap Berani Demang Anggadipa Menentang Perintah Kolonial

Pada 1920, Bupati Wiratanoeningrat mengukuhkan kembali tradisi hubungan pemerintah dengan para ulama. Beliau bersama Ulama Sunda kharismatik, Kiai Haji Ahmad Sudja’i, berhasil menghimpun 1.350 orang kiayi dalam wadah perhimpunan Idharu Bai’atil Muluki wal umaro, yang artinya “Tuhu ka Ratu, tumut ka pamarentah nagara”.

Bupati Wiratanoeningrat berhasil melakukan modernisasi tata pemerintahan dan pangreh praja dari bentuk tradisional menjadi modern. Pada 1925, beliau sukses mengawal berakhirnya model pamong praja feodal dengan berbagai atribut dan budaya hormatnya.

Di waktu yang sama, Wiratanoeningrat juga sukses mengawali tegaknya sistem pemerintahan yang demokratis dalam wadah dewan kabupaten. Tasikmalaya bertansformasi menjadi pemerintahan otonom yang membuka partisipasi politik rakyat dalam pengambilan keputusan pengelolaan pemerintahan.

Wiratanoeningrat juga merupakan bupati yang selalu mengutamakan kepentingan rakyatnya. Pada 1926 ketika rakyat di tanah Jawa terancam kelaparan akibat krisis ekonomi pasca perang dunia ke-1, Bupati Wiratanoeningrat bersama rakyatnya bahu-membahu bekerja keras membuka 14.000 hektar areal pesawahan baru di daerah Rawa Lakbok. Langkah itu dilakukan untuk menjadikan Tasikmalaya sebagai kabupaten yang berdaulat pangan.

Wiratanoeningrat wafat pada hari Selasa, tanggal 4 Mei 1937. Sepeninggal beliau pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya dilanjutkan oleh para penggantinya, di antaranya Raden Adipati Aria Wiradiputra (1937 s.d. 1943), Raden Tumenggung Sunarya (1944 s.d. 1947), Raden Abas Wilaga Somanteri (1948 s.d. 1951), Raden Priatna Kusuma (1951 s.d. 1957), Ipung Gandapraja (1957 s.d. 1958), Raden Memed Supatadireja (1958 s.d. 1966), Letkol Husen Wangsaatmadja (1966 s.d. 1974), Drs. Kartiwa Surya Saputra (1974 s.d. 1976),  Letkol A. Benyamin (1976 s.d. 1981) , Kolonel H. Hudly Bambang Aruman (1981 s.d. 1986), Kolonel  H. Adang Roosman, SH (1986 s.d. 1996), Suljana Wira Hadisubrata (1996 s.d. 2001), Drs. Tatang Farhanul Hakim, M.Pd (2001 s.d. 2011),  dan H. Uu.Ruzhanul Ulum, SE dengan wakil bupati H. Ade Sugianto, S.Ip (2011 s.d. sekarang). ***

Komentari

komentar

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?